Asfirla Ajak Petani Banyumas Budidayakan Tanaman Porang


BANYUMAS (Asatu.id) – Kabupaten Banyumas ternyata menyimpan potensi pertanian yang luar biasa dan belum dimanfaatkan secara maksimal. Maka dibutuhkan kemauan dan kemampuan khusus bagi para petani setempat untuk bisa memberdayakan lahan yang ada. Kurangnya pemahaman para petani tentang pengelolaan lahan dan pengolahan hasil panen, khususnyo tanaman polowijo, juga menjadi penyebab masih rendahnya nilai jual yang didapat.

Permasalahan tersebut mencuat saat kegiatan reses anggota DPRD Jateng dari Fraksi PDI Perjuangan, Asfirla Harisanto, di Desa Jatisobo, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Rabu (12/8).

Pertemuan tersebut di samping dihadiri konstituen juga para kepala desa, anggota kelompok tani dan warga setempat. Hadir juga Sekretaris DPC PDIP Banyumas, Ary Suprapto dan beberapa kader banteng moncong putih.

Di hadapan undangan yang hadir dengan protokol kesehatan ketat, Asfirla Harisanto yang juga Ketua Komisi C DPRD Jateng itu menjelaskan maksud dan tujuan kunjungannya bersama tim dalam reses masa sidang ke-3 tahun 2020 tersebut. Di samping sebagai kewajiban menemui konstituen di daerah pemilihannya, yakni Dapil XI (Banyumas dan Cilacap), sekaligus juga ingin menyerap aspirasi masyarakat sebagai perwujudan perwakilan rakyat dalam pemerintahan.

Dia juga menandaskan bahwa kedatanganya tidak sendirian, tetapi mengajak Ketua Puskud Jateng, Sutomo, yang paham soal pengelolaan lahan dan budidaya tanaman produktif.

“Saya sengaja mengajak orang yang paham tentang pertanian tanaman produktif, karena kami tahu bahwa lahan di Banyumas sangat potensial untuk budidaya tanaman, khususnya jenis polowijo. Tujuannya agar ke depan para petani di sini lebih sejahtera dan meningkat taraf hidupnya,” kata Asfirla Harisanto.

Bogi, sapaan akrab Asfirla Harisanto, juga mengingatkan para konstituennya untuk merawat dan memelihara beberapa bantuan fasilitas umum yang pernah diterima, seperti sumur bor, listrik masuk desa, program bedah rumah tidak layak huni (RTLH) dan beberapa fasum lain.


“Kita semua sedang prihatin di masa pandemi ini, anggaran Pemprov Jateng juga tidak maksimal karena banyak disisihkan untuk penanganan Civid-19. Tapi semaksimal mungkin kami tetap memikirkan masyarakat, termasuk memberikan bantuan paket sembako. Dan sekarang saatnya kita juga berpikir dan berupaya bersama untuk masa depan dengan memanfaatkan lahan pertanian yang ada. Salah satu alternatifnya kita coba budidayakan tanaman porang. Kebutuhan ekspor tanaman jenis polowijo ini masih sangat banyak dan terbuka lebar. Soal ini akan dijelaskan Pak Tomo yang lebih paham seluk beluk budidayanya,” kata Bogi.

Anggota kelompok tani yang hadir pun sangat antusias saat mendengar paparan Sutomo soal budidaya porang, jenis polowijo yang di desa sering disebut iles-iles. Tanaman itu ternyata punya nilai jual luar biasa, hanya saja selama ini masyarakat tidak paham cara pengelolaanya.

“Saya pastikan lahan daerah Banyumas cocok untuk budidaya tanaman porang. Saya siap mengawal para petani yang tertarik budidaya, dari persiapan lahan, penyediaan bibit, cara penanaman, sampai panen, pengolahan dan proses penjualan. Segera dibentuk kelompok-kelompok agar kita mudah berkomunikasi,” pinta Sutomo dalam paparannya.

Diskusi soal budidaya tanaman porang itu pun berjalan menarik. Bahkan Kepala Desa Jatisaba, Warid, bertekat segera memberitahukan warganya soal informasi budidaya tanaman porang itu. “Ini potensial dan gampang, apalagi dipandu orang yang ahli. Saya siap menginformasikan ke warga. Banyak lahan yang bisa dimanfaatkan,” kata Warid.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *