Kecanduan Gadget Mengancam, Bawa Anak Bahagia di Dunia Nyata

SEMARANG (Asatu.id) – Memberikan gawai atau gadget saat anak tantrum atau marah-marah di tempat umum, mungkin menjadi solusi sebagian orang tua agar anaknya tenang. Tapi, jangan lagi lakukan hal itu, karena bukan menjadi penyelesaian terbaik. Cara tersebut justru membuat anak mengulang tindakannya.

Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Tengah, Siti Atikoh Ganjar Pranowo, mengulasnya melalui siaran langsung Instagram melalui akunnya @atikoh.s, bersama psikolog yang juga Kepala Seksi Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi Jawa Tengah, Isti Ilma Patriani, Kamis (9/7). Selama satu jam, mereka membahas seputar Pengaruh Gadget terhadap Perkembangan Anak.

Psikolog yang akrab disapa Ilma ini menjelaskan, berdasarkan penelitian, sebanyak 65 persen orang tua akan memberikan gawai ketika anaknya tantrum, terutama di tempat umum. Hal itu tak bisa dibiarkan, sebab justru bisa memicu kecanduan gawai pada anak yang tidak bisa dikoreksi.

“Anak akan mengulangi lagi karena berpikir, ternyata kalau tantrum, guling-guling di keramaian, orang tua bisa memberikan HP (handphone),” ungkapnya.

Ilma mengurai hasil penelitian lain yang cukup memprihatinkan, di mana 70 persen anak usia enam bulan sampai empat tahun bermain gadget selama orang tua melakukan pekerjaan rumah. Pandemi Covid-19 pun berdampak pada semakin lamanya anak menggunakan gawai. Terbukti, pada remaja rata-rata menghabiskan enam jam untuk bermain HP.

“Kadang orang tua senang jika anaknya terlihat diam. Padahal mereka ternyata sedang mengakses internet tanpa kita mengatahui apa yang diakses. Kebiasaan anak-anak ini patut diperhatikan, terutama selama pandemi. Sebaiknya, beri anak aktivitas fisik untuk mengalihkan perhatian dari gadget,” ungkapnya.

Penggunaan gawai berjam-jam bisa membuat gangguan fisik, yakni karena ketidakseimbangan motorik halus dan kasar. Selain itu juga berpotensi mengakibatkan obesitas karena aktivitas gerak berkurang, gangguan intelektual seperti keterlambatan bicara pada anak akibat tidak berkomunikasi dua arah, hingga gangguan psikis yang ditandai anak sering marah tanpa penyebab. Dia menyebut, pola kerjanya  hampir sama dengan kecanduan narkoba.

Ancaman yang tak kalah mengkhawatirkan adalah eksploitasi anak di dunia online yang mengarah pada kekerasan seksual, maupun cyber bullying. Ancaman berikutnya game online, yang isinya bisa mengandung unsur kekerasan atau pornografi. Sehingga para orang tua mesti disiplin membuat aturan yang jelas, kapan anak dibolehkan menggunakan gawai.

Hal senada juga disampaikan Ketua TP PKK Jateng Atikoh Ganjar Pranowo. Menurutnya, teknologi bermata dua, tergantung bagaimana cara memanfaatkannya. Jangan sampai dimanfaatkan teknologi, tapi mesti memanfaatkan teknologi untuk kebaikan, kemaslahatan umat, mencari informasi yang benar, ilmu pengetahuan, dan sebagainya.

“Yang lebih penting, perlu kehadiran orang tua untuk bisa memberikan warna pada kehidupan anak, hadir secara total, produktif, tidak hanya mencari kebahagiaan melalui gadget atau hal-hal yang bersifat maya. Bawa anak ke dunia nyata, bahwa ada kebahagiaan di dunia nyata. Tidak hanya kebahagiaan di dunia maya,” tandasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *