Komisi C DPRD Jateng Apresiasi Pertumbuhan Laba Bank Jateng Purwokerto yang Signifikan

PURWOKERTO (Asatu.id) – Bank Jateng Cabang Koordinator Purwokerto mengalami pertumbuhan signifikan, dengan meraih laba sebesar Rp 61 miliar lebih per 31 Mei 2020.

Pertumbuhan laba yang signifikan itu pun mendapat apresiasi positif dari Komisi C DPRD Jateng yang melakukan monitoring dan evaluasi kinerja ke bank milik pemerintah daerah tersebut, Senin (29/6).

Rombongan Komisi C yang dipimpin Ketuanya, Asfirla Harisanto, itu diterima Pimpinan Bank Jateng Cabang Koordinator Purwokerto, Lis Arofah Ambarwati dan beberapa stafnya.

Di hadapan para wakil rakyat, Lis Arofah Ambarwati memaparkan tentang data kinerja lembaga yang dipimpinnya per 31 Mei 2020, antara lain soal aset yang mencapai Rp2,147 miliar atau bertumbuh 10,61%, dana masyarakat sebanyak Rp 1,962 miliar (bertumbuh 21,66%) dan kredit total Rp 1,729 miliar (bertumbuh 8,13%).

Dari paparan itu diketahui, laba yang dikumpulkan Bank Jateng Cabang Koordinator Purwokerto mencapai Rp 61,015 miliar (bertumbuh 8,13%), namun rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) mencapai 3,49% atau setara Rp 74,6 miliar.

Besarnya NPL yang dilaporkan itu sempat dipertanyakan Ketua Komisi C Asfirla Harisanto, meski disebutnya sebagai hal yang masih wajar. Menurut Bogi, panggilan akrab politisi PDIP itu, angka rasio NPL yang mencapai 3,49% terkesan agak aneh. Hal itu tampak dari data total kredit Rp 1,729 miliar, untuk kredit produktif hanya Rp 353,959 miliar, sedangkan konsumtifnya lebih besar, yakni Rp 1,375 triliun. Bogi menduga jumlah kredit yang bermasalah lebih banyak yang konsumtif.

“Saya hanya minta tolong masalah itu dijelaskan. Juga besaran corporate social responsibility (CSR) itu hitungannya bagaimana, dari dividen atau dari total laba,” kata Bogi minta penjelasan.

Dalam rapat monitoring dan evaluasi yang dipimpin anggota Komisi C Siti Rosyidah, anggota Komisi C yang lain, yaitu Mustholih (PAN), Agung Budi Margono (PKS) dan Maria Tri Mangesti (PDIP) juga menanggapi masalah NPL  yang tinggi dan penyaluran CSR yang dinilai kurang tepat.

Menurut Agung Budi Margono, CSR untuk kegiatan yang bersifat seremonial itu tidak mendukung core bisnis Bank Jateng. Dia menyarankan agar ke depan CSR dimanfaatkan untuk membantu masyarakat dalam kegiatan yang sifat maupun bentuknya sejajar atau mendukung kepentingan Bank Jateng.

Sedangkan Maria Tri Mangesti mempertanyakan kredit macet yang berasal dari koperasi. “Sistemnya bagaimana, apakah chaneling atau apa, dan yang menanggung kerugian dalam hal kreditnya macet siapa? Mohon ke depan laporan untuk kami seperti ini dilampiri neraca agar kami bisa evaluasi dengan tepat,”  pintanya.

Sementara menurut Mustholih, NPL untuk kredit yang kecil-kecil seperti KUR atau Mitra Jateng memang wajar terjadi. Asal jangan sampai rasionya tinggi. “Namun kami apresiasi karena di tengah pandemi Covid19, mampu membukukan laba yang signifikan besar,” ujarnya.

Terkait relaksasi kredit di tengah pandemi corona19, anggota Komisi C Nurul Hidayah meminta penjelasan, berapa nasabah yang mengajukan relaksasi dan apakah hal itu menguntungkan nasabah di kemudian hari.

“Misalnya relaksasi disetuji satu tahun, tenornya ditambah atau tetap? Sebab kalau ditambah setahun kan merugikan yang bersangkutan,” tutur politikus PPP itu.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *