Paket Sembako untuk Warga Miskin

SEMARANG (Asatu.id) – Bantuan berupa 1000 paket sembako diserahkan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, kepada warga tak mampu, Senin (4/4).

Penyerahan tersebut merupakan bentuk perhatian pemerintah provinsi dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jawa Tengah serta UPZ (Unit Pengelola Zakat) Masjid Baiturrahman guna meringankan beban warga di tengah pandemi Covid-19.

Ganjar Pranowo berpesan agar para penerima tetap bersabar di tengah wabah. Selain itu, mereka juga diimbau tetap melakukan protokol kesehatan saat berkegiatan sehari-hari.

“Bantuan itu kita sampaikan sekarang, kalau biasanya menjelang Idul Fitri sekarang dimajukan, untuk membantu rekan-rekan yang kurang beruntung. Ayo kita makaryo bersama-sama melawan Covid. Kalau kita disiplin menjaga kesehatan maka Covid akan cepat selesai,” tuturnya, di aula Masjid Raya Baiturrahman Semarang.

Ia menyebut, Kota Semarang merupakan salah satu zona merah persebaran wabah tersebut. Maka, ia mengajak warganya untuk tetap memakai masker dan rajin mencuci tangan.

“Rumusnya mboten angel (tidak sulit), sing isa nglawan awake dewe (yang bisa melawan kita sendiri), syaratnya adalah sering mencuci tangan pakai sabun, pakai masker, jaga jarak dan pola hidup sehat dengan olahraga juga,” urainya.

Ketua Baznas Jawa Tengah  Ahmad Darodji mengatakan, paket yang dibagikan berupa beras, mie instan dan minyak goreng. Penerimanya, adalah mereka yang berasal dari golongan tidak mampu seperti pedagang kaki lima, yatim piatu, pemijat tuna netra dan sebagainya.

“Total dibagikan sekitar 1000 paket. Selain bantuan dari Pak Ganjar, ada pula bantuan dari berbagai pihak,” ujarnya.

Seorang penerima bantuan Nuqman (44), mengatakan bahagia menerima paket sembako. Lantaran, selama terjadi wabah Covid-19, pekerjaannya sebagai pemijat tunanetra, terimbas.

“Menurun 80 persen, biasanya empat pelanggan kini hanya satu paling banyak dua orang. Untuk sekali memijit biayanya tujuh puluh ribu,” paparnya.

Nuqman menambahkan, dalam situasi pandemi Covid-19 ia sebenarnya takut bila menangani pasien. Terlebih lagi, penyakit tersebut kadang tak menimbulkan gejala.

“Tapi saya hati-hati, biasanya pelanggan yang tetap saja. Kalau yang datang dari Jakarta tidak saya layani,” pungkas warga Kelurahan Tandang itu.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *