Doni Monardo Minta Daerah Lain Tiru Jateng Terapkan Manajemen Pasar Rakyat

SEMARANG (Asatu.id) – Penerapan physical distancing di pasar-pasar rakyat Jawa Tengah diapresiasi sejumlah pihak. Ketua Gugus Tugas Covid-19, Doni Monardo bahkan meminta daerah lain meniru manajemen pasar rakyat Jateng itu.

Hal itu disampaikan Doni saat memimpin rapat penanganan Covid-19, Minggu (3/5). Rapat digelar secara virtual dan diikuti oleh jajaran kementerian, para Gubernur se Jawa-Bali termasuk Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Dalam kesempatan itu, masing-masing Gubernur melaporkan perkembangan penanganan Covid-19 di daerahnya masing-masing. Kepada Doni, Ganjar melaporkan berbagai perkembangan penanganan Covid-19 di Jateng, mulai persoalan arus mudik, penyaluran bantuan sosial dan edukasi physical distancing.

“Kami tidak lelah untuk terus melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, meskipun itu tidak mudah dan masyarakat masih banyak yang ngeyel,” kata Ganjar.

Setelah pemaparan Ganjar, Doni langsung memberikan tanggapan. Kepala BNPB ini juga memuji keseriusan Jawa Tengah dalam menerapkan physical distancing.

“Pasar rakyat di Jawa Tengah itu bagus. Ditata dengan rapi. Jadi ekonomi masih tetap berjalan tapi protokol kesehatan dilaksanakan dengan baik. Ini patut dicontoh, daerah lain saya minta menerapkan apa yang dilakukan Jateng,” kata Doni.

Menurut Doni, pasar rakyat tidak boleh berhenti. Sebab, di tempat itu ada banyak kebutuhan masyarakat, selain sembako juga kebutuhan protein dan gizi. Selain itu, ada kepentingan ekonomi cukup besar di tempat itu.

“Maka bisa diterapkan seperti di Jawa Tengah. Pasar tetap berjalan, ditata dan dilakukan di jalan terbuka dengan berjarak. Pembeli dan penjual pakai masker, ada tempat cuci tangan dan lainnya. Ini keren, akses masyarakat berdagang tetap ada, namun protokol kesehatan dilakukan ketat. Mudah-mudahan daerah lain meniru,” tegasnya.

Sekadar diketahui, sejumlah pasar rakyat di Jawa Tengah menerapkan phsycal distancing. Pasar digelar di jalanan dengan penerapan jarak antara kios atau lapak pedagang satu dengan yang lainnya.

Para pembeli dan pedagang kompak menggunakan masker. Masyarakat tidak boleh berkerumun dan harus antre untuk belanja. Di berbagai titik, disediakan tempat cuci tangan.

Pasar tersebut pertama kali diterapkan di Salatiga. Setelah itu, pasar lain mengikuti yakni di Demak, Tegal dan Pati.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *