Akibat Pandemi Covid-19, Pertumbuhan Ekonomi di Jateng Hanya 2,8 Persen

SEMARANG (Asatu.id) – Akibat pandemi Covid-19,  seluruh sektor usaha terkena dampaknya dan tidak sedikit perusahaan yang terancam.menghentikan kegiatan usahanya. Pertumbuhan ekonomi di Jateng pun, dipastikan menurun tajam.

Kepala Kantor Perwakilan BI Jateng Soekowardojo mengatakan, pertumbuhan ekonomi di Jateng saat ini hanya 2,8 persen dan jauh dari target proyeksi awal di angka 5,8 persen yang akan dicapai hingga akhir 2020.

“Kondisi perekonomian di tengah pandemi masih terus memburuk. Banyak sektor usaha terdampak karena panedmi Covid-19, bahkan telah membuat koreksi semakin dalam pada proyeksi pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Menurutnya, proyeksi penurunan kegiatan ekonomi telah dikonfirmasi beberapa survei yang dilakukan Bank Indonesia (BI).

“Pertumbuhan ekonomi 2020 dengan mengacu pada data dan kondisi sekarang merujuk Maret itu, akan lebih rendah bila dibandingkan dengan realisasi 2019 lalu. Laju pertumbuhannya tidak lebih hanya antara 4,1 persen hingga 5,1 persen,” tuturnya.

Dikatakan, sektor-sektor yang terdampak Covid-19 di Jateng ada 11 sektor teridentifikasi. Di antaranya adalah sektor pariwisata, industri dan investasi serta perdagangan.

Sementara itu, Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia juga mengindikasikan pertumbuhan harga properti residensial di pasar primer di Jateng pada Triwulan I/2020 masih terbatas.

Hal ini tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada Triwulan I/ 2020 yang tumbuh sebesar 0,28 persen (qtq), meningkat dibandingkan Triwulan sebelumnya sebesar 0,18 persen (qtq).

Soekowardojo menuturkan, peningkatan indeks terjadi pada rumah tipe kecil dan menengah dari masing-masing sebesar 0,31 persenqtq) dan 0,13% (qtq) menjadi 0,42% (qtq) dan 0,35% (qtq), sementara rumah tipe besar tumbuh melambat dari 0,10% (qtq) menjadi 0,08% (qtq).

“Secara tahunan, pertumbuhan IHPR pada Triwulan laporan mengalami perlambatan sebesar 1,05% (yoy) lebih rendah dibandingkan dengan 1,12% (yoy) pada Triwulan IV/2019, perlambatan terjadi pada semua tipe rumah,” ujarnya.

Menurutnya, ditengah pertumbuhan harga yang terbatas, penjualan property residensial pada Triwulan I/2020 tumbuh sebesar 33,41% (qtq), lebih tinggi dari 0,08% (qtq) pada Triwulan I/2019.

“Meningkatnya penjualan pada Triwulan I/2020 disebabkan oleh kenaikan penjualan pada rumah tipe kecil, sementara rumah tipe menengah dan besar mengalami kontraksi. Secara tahunan, penjualan properti residensial tumbuh melambat 36,51% (yoy), lebih rendah dari 60,88% (yoy) pada triwulan IV 2019,” tuturnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *