Pawai Dugderan Diselenggarakan Secara Sederhana

SEMARANG (Asatu) –  Diberlakukannya imbauan agar warga tidak keluar rumah, kalau tidak perlu, menjadikan banyak warga bertanya-tanya tentang ada tidaknya acara pawai dugderan yang biasanya selalu diselenggarakan saat akan memasuki bulan Ramadan.
Apalagi, kerumunan massa juga diimbau untuk dihindari. Tujuannya, untuk mencegah penyebaran Covid-19. Diluar dugaan, ternyata kegiatan pawai dugderan akan tetap diselenggarakan, meskipun secara sederhana. Apalagi dugderan sudah menjadi ikon Kota Semarang  dalam menyambut bulan suci Ramadan.
“Nanti diatur, pelaksanaannya secara sederhana dan tidak mendatangkan kerumunan banyak orang. Karena masih dalam situasi prihatin tanggap darurat Covid-19. Hindari bertemunya banyak orang. Kalau terpaksa, keluar rumah pakai masker, cuci tangan dengan handsanitizer. Acara atau upacara yang bisa ditunda untuk sementar ditunda dulu,’’ ungkap  Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi usai menyerahkan bantuan paket sembako kepada warga Kota Semarang di halaman Masjid Al-Ikhlas, Jalan Parangkusumo, Kelurahan Tlogosari Kulon , Semarang, Rabu (15/4).
Bantuan sembako berasal dari Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Semarang, Tim Pengembangan Ekonomi Umat Berbasis Masjid bekerja sama dengan Satgas Covid-19 Universitas PGRI Semarang (UPGRIS).
Acara dihadiri Ketua DMI Kota Semarang ,Ir  Achmad Fuad MBA, Camat Pedurungan Kukuh Sudarmanto, Wakil Rektor UPGRIS Dr Ir Suwarno Widodo dan Kepala Kelurahan Tlogosari Kulon Andreas Dwi Agung Nugroho serta pengurus tim pemberdayaan ekonomi umat berbasis masjid.
Ketua DMI Kota Semarang,  Achmad Fuad menjelaskan, pihaknya selama tanggap darurat Covid-19 bekerja sama dengan seluruh masjid se-Kota Semarang melakukan berbagai kegiatan. Antara lain, penyemprotan disinfektan di masjid-masjid dan pemberian sembako kepada warga yang terdampak akibat virus Corona.
“Hari ini, kami bagikan 370 paket sembako untuk 16 kecamatan se-Kota Semarang”,  katanya.
Khusus menghadapi bulan suci Ramadan, Fuad mengajak umat Islam untuk tetap tinggal di rumah dan mengurangi kerumunan orang.
“Dengan sangat terpaksa Shalat Tarawih dan tadarus Alquran, duselenggarakan di rumah masing-masing. Mudah-mudahan saat Ramadan,  Covid-19 sudah berlalu, sehingga kita bisa menyemarakkan Ramadan dengan meriah”, katanya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *