Dampak Covid-19, Permintaan Jamu Tradisional Meningkat

KOTA PEKALONGAN (Asatu.id) – Eksistensi jamu tradisional yang dipercaya masyarakat dapat menjaga daya tahan tubuh, ikut meningkat permintaannya sejak merebaknya virus corona. Salah satunya jamu tradisional yang dibuat oleh Pusat Penelitian, Pengembangan dan Pelayanan Jamu Dinas Kesehatan (PSPJ Dinkes) Kota Pekalongan.

Kepala PSPJ Kota Pekalongan, Uswatun Khasanah mengungkapkan, dalam dua pekan terakhir ini banyak permintaan jamu siap minum maupun kemasan instan yang dipesan oleh masyarakat maupun instansi yang ada di Kota Pekalongan seperti Rumah Sakit, Puskesmas, OPD dan penikmat jamu.

“Di tengah wabah corona ini, permintaan jamu buatan PSPJ Dinkes ini mengalami peningkatan drastis. Masyarakat yang sebelumnya enggan minum jamu karena rasanya pahit, sekarang semakin menyadari pentingnya minum jamu untuk meningkatkan imunitas,” terang Uswatun.

Peningkatan permintaan jamu PSPJ hampir 300-400 persen dari yang semula hanya 100-200 botol setiap harinya. Tingginya permintaan rempah-rempah di pasaran, berdampak pada lonjakan harga jahe merah, kencur dan sejenis, namun pihaknya tidak menaikkan harga jamu yang dijual per botol maupun kemasannya.

“Varian jamu yang biasa dipesan sangat beragam. Kebanyakan varian bir pletok, temulawak, jahe, kencur, dan sebagainya yang banyak mengandung khasiat untuk menghangatkan badan, menyegarkan badan, melancarkan peredaran darah, dan meningkatkan imunitas tubuh. Harganya pun relatif murah mulai dari Rp5.000 per botol dan Rp 15.000 untuk kemasan,” jelas Uswatun.

PSPJ Dinkes Kota Pekalongan terus berinovasi mengembangkan aneka jenis jamu, yang terbaru adalah varian jamu yang diberi nama J-Co 19 (Jamu Covid-19), di dalamnya mengandung bahan alami seperti kunyit, secang, lengkuas, kayu secang dan jeruk. Varian baru ini pun langsung menyita perhatian para penikmat jamu tradisional.

“Varian baru J-Co 19 yang diluncurkan bertepatan dengan Hari Jadi Kota Pekalongan, langsung dapat diterima semua pihak. Pada saat sotf launching hanya diproduksi 20-25 botol tetapi langsung terjual habis. Bahkan beberapa pihak telah memesan untuk dapat menikmati jamu tersebut,” tandas Uswatun.

Tak hanya dari dalam kota saja, permintaan jamu buatan PSPJ Dinkes Kota Pekalongan juga datang dari luar kota seperti NTB, Kupang, Palembang, Yogyakarta dan beberapa daerah di Indonesia.

Asatu.id, berita pekalongan, asatu, jamu tradisional, dampak corona, permintaan meningkat

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *