Prof Dr KH Abu Rokhmad MAg: Boleh Tidak Shalat Jumat, Karena Udzur syar’i

SEMARANG (Asatu.id) – Tidak melaksanakan Shalat Jumat sebanyak tiga kali berturut-turut sebagai antisipasi mencegah penyebaran virus Corona, benarkah bisa disebut kafir?

Pertanyaan itu sering muncul dan menjadi perbincangan banyak orang. Pro dan kontra pun saling bermunculan.

Menurut Prof Dr KH Abu Rokhmad MAg, Salah seorang pengajar Ushul Fiqih UIN Walisongo Semarang, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Komisi Hukum MUI Jateng mengatakan, secara hukum fiqih, umat Islam diperbolehkan tidak melaksanakan Shalat Jumat atau Jumatan hingga tiga kali atau lebih, karena ada udzur syar’i atau halangan yang dibenarkan secara syariah.

”Sepanjang ada udzur syar’i, maka hukumnya boleh tidak melaksanakan Jumatan. Yang tidak boleh bila menyepelekan Shalat Jumat,” kata dia dalam keterangannya, Jumat (3/4).

Dikatakan, fatwa yang dikeluarkan Grand Syaikh Al-Azhar Mesir, Fatwa MUI, Fatwa NU dan Fatwa Muhammadiyah yang substansinya umat Islam boleh tidak melaksanakan Jumatan, dengan mengganti Shalat Zuhur di rumah karena udzur syar’i, yaitu dalam upaya menghindari ke-mudharat-an berupa terpapar Covid-19, yang dapat menulari orang lain atau ke dirinya sendiri.

Profesor termuda di UIN Walisongo ini lebih lanjut mengungkapkan,  dengan tidak melaksanakan Jumatan, bukan berarti tidak beribadah kepada Allah SWT. Karena diganti ibadah wajib di rumah. Berarti dia berusaha ikut menyelamatkan (maslahat) bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat luas dari bahaya Covid-19.

”Sebab tujuan dari syariat Islam (maqashid al-syariah) adalah, mendatangkan kemaslahatan dan menghindari mafsadat (jalbul mashalih wa dar’ul mafashid). Menghindari ke-mudharat-an agar tidak terpapar penyakit atau menularkan penyakit kepada orang lain, harus didahulukan. Daripada mengambil manfaat, misalnya dengan melaksanakan Shalat Jumat, berdasarkan kaidah dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih,” tegasnya.

Ditambahkan, bila sengaja meninggalkan tiga kali Shalat Jumat tanpa udzur, maka dia ditetapkan sebagai bagian dari kaum munafik. Munafik yang dimaksud adalah, kemunafikan dalam bentuk perbuatan, bukan keyakinan. Sebab Shalat Jumat adalah kewajiban bahkan lebih wajib dari Shalat Zuhur.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *