Mahasiswa UKSW Ciptakan Bioplastik Dari Kulit Singkong


SEMARANG (Asatu.id) – Pengembangan ekonomi kreatif seperti yang diimpikan Mendikbud Kabinet Indonesia Maju, Nadiem Makarim, kini mulai diimplementasikan.

Kalangan pelajar mulai berkreasi menciptakan produk-produk baru yang berkualitas dengan menggunakan limbah. Salah satu di antaranya adalah tiga orang mahasiswa Universitas Kristen Satya Wancana (UKSW) Salatiga.

Mereka berhasil menciptakan inovasi dengan mengembangkan produk bioplastik berbahan dasar limbah kulit singkong.

Ketiga mahasiswa itu masuk dalam tim inovator CASPEEA. Masing-masing adalah, I Gede Kesha Aditya Kameswara dan M Sulthan Arkana, keduanya mahasiswa program studi Kimia Fakultas Sains dan Matematika (FSM), serta Pambayun Pulung Manekung Stri Sinandang, mahasiswi Prodi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISKOM) UKSW.

Inovasi produk baru itu diberi nama “CASPEEA, (A Bioplastic Made from Cassava Peel Wastage to Combat Plastic Waste Crisis Worldwide) yang memiliki ketahanan terhadap beban, hingga mencapai 15 Mpa. Sedangkan produk bioplastik lainnya, hanya dapat menahan beban sebesar 9 Mpa.

I Gede Kesha Aditya Kameswara mengatakan, produk plastik biasa yang diproduksi oleh pabrikan dapat menahan beban berkisar 20 hingga 30 Mpa.

“Kami juga menjamin produk ini food grade memliki ketahanan lebih unggul, meskipun ada campuran bahan kimianya,” ujar Kesha panggilan akrab I Gede Kesha Aditya Kameswara di kampusnya, kemarin.

Kesha sebelumnya juga pernah bereksperimen dengan popok bayi dari kulit singkong.

Menurutnya, kulit singkong mengandung sekitar 60 persen polisakarida berupa pati. Bahan tersebut hanya menjadi limbah dan belum banyak dimanfaatkan. Padahal sangat potensial untuk pembuatan produksi bioplastik.

Indonesia katanya, merupakan salah satu produsen singkong terbesar di dunia dengan kapasitas produksi mencapai 21 juta ton setiap tahun.

Dengan demikian kulit singkong dapat menjadi kandidat kuat sebagai bahan utama pembuatan bioplastik. Karena memiliki keberlangsungan (sustainability) yang baik.

Kesha menuturkan bioplastik yang mereka hasilkan dapat terurai sebesar 34,56 persen selama 3 hari waktu penimbunan didalam tanah. Sedangkan produk kompetitor hanya sebesar 18 persen. Adapun plastik biasa tidak dapat terurai sama sekali.

“Proses produksi dari bioplastik CASPEEA ini pun terbilang mudah karena tidak memerlukan alat canggih,” tuturnya.

Dekan FSM UKSW Dr Drs Adi Setiawan MSc menambahkan, dari hasil inovasi ketiga mahasiswa yang saat ini masih aktif kuliah itu, berhasil menyumbangkan medali perak bagi UKSW pada ajang “Thailand Inventor’s Day 2020” yang digelar di Bangkok International Trade and Exhibition Center (BITEC), Bangkok, Thailand pada 2-6 Februari lalu.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *