Tembang Pangkur dan Dandhang Gulo Iringi Tradisi Ganti Luwur

SEMARANG – Penyelenggaraan haul (peringatan wafat) ke- 7 Abah Syeikh Saifullah Anwar Zuhri Rosyid dan tradisi Ganti Luwur di Pondok Pesantren Salafiyah Az-Zuhri, Jalan Ketileng Raya, Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Semarang, berlangsung meriah dan khidmah, Selasa (11/2) malam.

Proses pengatian luwur (kelambu) yang ditempatkan di kereta mini, diarak dari Dalem Abah Syeikh Saifullah menuju makam. Di tempat itu dilakukan proses penyerahan kelambu oleh Maston kepada putranya Abah Syaiful, Gus Novi dan Gus Lukman, diiringi 15 orang berpakaian Jawa yang membawa hasil bumi berupa palawija. Sementara ratusan pengunjung berdiri khusyuk sambil melantunkan shalawat.

Prosesi juga diwarnai dengan Tembang Pangkur dan Dandhang Gulo yang dinyanyikan oleh dua orang perempuan dan laki-laki. Para pejabat setempat dan akademisi juga turut menyesaki ponpes yang berada di Jalan Ketileng Raya 13 tersebut.

Menurut Maston dari Teater Lingkar yang memimpin prosesi penyerahan Luwur, acara tersebut merupakan haul Abah Syeikh ke-7 bersamaan pengajian Luwur. Kegiatan seperti ini tidak ada di tempat lain.

“Tetapi Abah menggunakan sentuhan budaya melalui arak-arakan yang diiringi dari Dalem Abah menuju Makam Abah. Karena budaya tidak lepas dari agama, begitu juga agama tidak lepas dari budaya. Keduanya harus seiring dan sejalan,” kata Maston kepada wartawan.

Adapun makna yang dapat diambil dari prosesi ini, Maston menginggatkan, setiap manusia akan meninggal. Maka dari itu, manusia harus berbuat baik, bertutur pula yang baik.

“Makna ini yang dapat diambil bagi kita yang masih hidup bahwa dunia ini akan kita tinggalkan,” ujarnya.

Sementara itu Walikota Hendrar Prihadi yang turut hadir secara langsung menyampaikan terimakasih kepada Abah Saifullah.

Menurut Hendi, sapaan akrab wali kota, ada hal yang luar biasa dalam diri beliau, yakni sikap yang benar-benar menerima segala kelompok masyarakat. Beliau juga selalu tersenyum dan selalu memberikan kecerahan dan rasa tentram pada santri dan masyarakat.

Maka hal yang dapat dipetik dalam kegiatan ini, Hendi setuju dengan apa yang disampaikan oleh Prie GS. Janganlah kemudian hidup di dunia ini hanya selalu mementingkan pribadi. Manusia ditakdirkan sebagai makhluk sosial, satu dengan yang lain harus berinteraksi.

“Nek ono seng sengit, nek ono seng galak itu lumrah. Jangan sampai kita membalas. Itulah salah satu ajaran dari Abah Saifullah yang selalu saya ingat,” kata Hendi dengan bahasa Jawa.

Hendi juga mengajak masyarakat yang hadir untuk menggunakan ajaran beliau sebagai panutan dalam kehidupan sehari-hari.

“Yang menarik dalam kegiatan ini, juga untuk membuat kita dekat kepada Allah baik keimanan, ketaqwaan kita. Saya mengucapakan banyak terima kasih begitu banyak kegiatan seperti ini di Kota Semarang. Sehingga Kota Semarang dapat berkah dari Allah SWT,” ujar Hendi.

Ikut hadir dalam kegiatan ini Romo Budi, KH Budi Harjono, Prie GS, Rektor Unnes Fathur Rohman, para ulama dan lainnnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *