Hetero Space Dinkop dan UKM Jateng Sediakan Fasilitas Memadai

SEMARANG (Asatu.id) – Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah, Ema Rachmawati menyampaikan, pihaknya telah menyiapkan Hetero Space di UMKM Center Srondol Semarang.

Nama Hetero Space diambil dari kata ‘heterogen’, yang memiliki arti terdiri atas berbagai unsur yang berbeda sifat atau berlainan. Dalam konstelasi penamaan, Hetero Space bermakna ruang keberagaman untuk mengakomodasi kemampuan sumber daya manusia Indonesia, terutama mereka yang memiliki potensi tak terbatas.

Ema berharap, dengan semangat ruang tumbuh berkembang yang tanpa batas, dan heterogennya latar belakang pegiat UMKM maupun start up, maka akan memberi kontribusi berarti bagi Jawa Tengah maupun Indonesia. Apalagi fasilitas yang disediakan di co-working space itu cukup lengkap. Mulai dari ruang kantor bersama, ruang meeting, ruang kelas, event space, dan juga private office.

Selain menyediakan fasilitas berupa ruang untuk berkolaborasi, di tempat itu juga akan diadakan berbagai pelatihan yang bisa diikuti oleh UMKM dan masyarakat umum di Jawa Tengah. Bahkan, setahun setidaknya ada 192 kegiatan dengan berbagai tema bahasan, di antaranya keuangan, desain dan branding, go-online, hingga legalisasi dan perizinan.

“Semua orang dari berbagai instansi, perusahaan maupun UMKM bisa mempergunakan fasilitas tersebut. Namun ada harga yang harus dibayarkan. Tidak mahal sih jika dibandingkan banyaknya keuntungan yang didapat. Hanya Rp25 ribu per hari 24 jam,” tandas Ema.

“Peresmian Hetero Space akan dilakukan tanggal 31 Januari 2020, yang dirangkai dengan acara Hetero Festival hingga 2 Februari 2020,” kata Ema saat konferensi pers di Gedung A Lantai 1 Kantor Gubernur Jateng, Rabu (29/1).

Sementara Co Founder Impala Space, Andre Widyastama menuturkan bahwa Hetero Space merupakan ruang kolaborasi berbasis network human resources.

“Ini merupakan ruang kolaborasi membantu teman-teman pengusaha bertemu dengan potensi orang maupun instansi dalam mengembangkan usahanya. Target awal, kita kerja sama dengan Provinsi Jawa Tengah ada 192 program,” paparnya.

Ke depan, diharapkan UMKM konvensional mampu go digital. Sehingga bukan hanya muncul di pasar atau toko online, tapi juga mampu berinovasi.

“Go digital. Jadi bisnis UMKM ini bisa menjadi corong lapangan kerja,” pungkasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *