Meriahnya Pasar Semawis, dari Tarian Sampai Beragam Menu Sajian

SEMARANG (Asatu.id) – Belasan orang meliak-liukkan tongkat panjang penyangga Naga-nagaan, memeragakan tari Liang Liong di ujung Jalan Wotgandul Timur kawasan Pecinan Semarang, Jumat (17/1) malam.

Rancaknya gerakan mereka sampai-sampai membuat masyarakat yang memadati Pasar Semawis histeris karena seolah-olah hewan mitologi itu benar-benar hidup dan melayang di atas kepala mereka, tidak terkecuali Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Layaknya memberi penghormatan, kepala naga Liang Liong yang diangkat setongkat penuh itu langsung menukik dan menggeliat di depan dada Ganjar yang mengenakan pakaian tradisional Cina berwarna merah.

Setelah hentakan musik pengiring membuncah, sang naga berputar arah membukakan jalan Gubernur Jawa Tengah menuju salah satu kursi di Tok Panjang.

Saat Ganjar mendekati tempat duduk, suara perkusi pengiring Liang Liong segera berganti dengan alunan erhu, guzheng dan dizi yang mengiringi gadis berjilbab menyanyikan lagu Mandarin.

Menurut Haryanto Halim, Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Wisata (Kopisemawis) lagu-lagu tersebut mendendangkan syair-syair kebahagiaan menjelang Tahun Baru Imlek.

“Selain lewat lagu, kebahagiaan itu kami luapkan dengan menggelar Tok Panjang ini,” kata Haryanto, yang akrab dipanggil Pak Har.

Tok Panjang merupakan tradisi makan orang Tionghoa di meja panjang yang diikuti oleh banyak orang. Di Semarang, tradisi itu dipoles jadi perayaan meriah yang dibuka selebar-lebarnya untuk siapapun. Halal, jadi jaminan khusus pada seluruh makanan yang disajikan di Tok Panjang. Bahkan karena seringnya mendapat pujian tentang tingginya toleransi di acara itu, Pak Har mengatakan bahwa sikap seperti itu sudah semestinya dilakukan.

“Enam meja berjajar yang jika disambung panjangnya hampir dua ratus meter ini diisi dari berbagai etnis, suku maupun agama. Mereka menikmati hidangan khas Tionghoa dari sup lobak, kue keranjang, acar, nasi goreng khas Tionghoa sampai yang paling lezat, ikan dori,” katanya.

Telah 17 kali Tok Panjang digelar di Kawasan Pecinan Semarang. Selama 17 kali pula acara yang digelar selama tiga hari itu tidak pernah sepi pengunjung. Gaungnya pun telah didengar bukan hanya warga Jawa Tengah, namun hampir seluruh penjuru tanah air dengan memanfaatkan ikatan persaudaraan maupun penyebaran informasi di berbagai media.

Woro Mastuti, misalnya. Dia rela menempuh perjalanan sekitar delapan jam dari Depok hanya ingin duduk di jajaran kursi dan menikmati sajian di Tok Panjang Semawis.

“Luar biasa sekali acaranya, apalagi hidangannya ini. Lobak yang asal rasanya hambar bisa jadi enak begini. Harus dilestarikan ini, makanan dan terutama acaranya,” kata perempuan paruh baya yang juga pengampu di Universitas Indonesia itu.

Sebenarnya, tradisi makan di meja panjang menjelang Imlek itu bukan hanya dilakukan di Semarang, tapi di daerah lain. Bahkan di Singapura ada beberapa resto yang memiliki tema tradisi makan ini. Bukan hanya itu, di Malaysia bahkan ada Museum yang memamerkan tradisi ini.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *