Disdikbud Jateng Dalami Kasus Pemaksaan Jilbab Siswa SMAN 1 Gemolong

SEMARANG (Asatu.id) – Menanggapi kasus teror yang dialami Z, salah satu siswi SMAN I Gemolong Kabupaten Sragen karena tidak memakai jilbab, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng, Jumeri, mengatakan, pihaknya langsung menerjunkan tim ke lokasi. Sampai saat ini, pihaknya juga masih terus melakukan pendalaman di lapangan.

“Saat ini saya juga sudah berada di Sragen. Kemarin tim sudah turun ke lapangan dan melakukan berbagai tindakan. Alhamdulillah, kasus ini sudah selesai. Semua pihak sudah memberikan penjelasan dan Z juga sudah menerima dan hari ini dia sekolah seperti biasa,” kata Jumeri saat dikonfirmasi, Kamis (9/1).

Jumeri menerangkan, setelah diklarifikasi, pihaknya menemukan keterangan bahwa yang mengirim pesan teror melalui Whatsapp kepada Z adalah teman Z sendiri. Teror itu bukan dikirim oleh guru, pembina rohis atau kepala sekolah, melainkan teman sebayanya.

“Z adalah satu-satunya siswi di SMAN I Gemolong yang tidak menggunakan jilbab. Kemudian teman-temannya mengirim pesan melalui WA itu. Teman-temannya mengingatkan bahwa Z keliru karena tidak memakai jilbab,” terang Jumeri.

Meski begitu, Jumeri menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh teman-teman Z adalah tindakan intimidasi dan intoleransi. Untuk itu, pihaknya akan melakukan pembinaan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

“Saya akan mengumpulkan seluruh siswa SMAN I Gemolong, kepala kekolah, guru, pembina Rohis dan pengurus OSIS untuk diberi pengarahan dan pembinaan. Kami tidak ingin, ke depan masalah intoleransi ini kembali terjadi. Semuanya harus saling menghormati dan menghargai perbedaan,” tegasnya.

Tak hanya itu, pihaknya juga akan mengumpulkan pengurus Rohis se Kabupaten Sragen untuk diberikan pembinaan. Tujuannya, agar kasus intoleransi dan intimidasi diantara siswa tidak kembali terulang.

“Kami sebenarnya sudah melakukan ikhtiar di Sragen luar biasa, semua guru sudah dikumpulkan oleh PGRI untuk diberi pemahaman. Kemenag, Polres, Korem dan lainnya juga tidak lelah untuk memberikan pengertian tentang toleransi, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI dan Pancasila. Kami akan terus berusaha agar tindakan-tindakan intoleransi tidak terjadi lagi di Jawa Tengah,” tutupnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *