Perkenalkan Tradisi Literasi Jangan Hanya di Ponpes

KENDAL (Asatu.id) – Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen mengatakan, fitnah dan perpecahan yang muncul di era digital salah satunya disebabkan oleh kurangnya literasi dan sanad (dasar/sandaran) keilmuan yang belum membudaya di kalangan masyarakat umum. Karena, budaya itu hanya terjadi di pesantren.

“Fitnah yang paling marak adalah fitnah agama, dan itu bukan kepada orang tidak suka dengan agama, akan tetapi sering menggunakan agama untuk kepentingan dan menggunakan agama untuk perpecahan,” katanya Wagub membuka Seminar Penguatan Tradisi Literasi dan Sanad Keilmuan Ustadz Pendidikan Diniyah Formal se-Indonesia di Pondok Pesantren Salaf APIK Kaliwungu Kendal, Jumat (20/12).

Gus Yasin, sapaan akrab Taj Yasin berharap, tradisi literasi dan sanad keilmuan dikenalkan dan dibudayakan di tengah masyarakat, tidak hanya di pondok pesantren.

Ketua Asosiasi Pendidikan Didiyah Formal (Aspendif) Fadlullah Turmudzi menjelaskan, kegiatan yang akan berlangsung lima hari itu diikuti 28 pondok pesantren penyelenggara pendidikan diniyah formal dari Jambi, Riau. Sulawesi, Surabaya, Jakarta, Jombang, serta utusan-utusan dari beberapa daerah di Jateng.

“Kami ingin memotivasi tradisi literasi yang sudah menjadi tradisi salafus soleh terdahulu. Sehingga tradisi tulis menulis di pondok-pondok pesantren, khususnya penyelenggara pendidikan diniyah formal, kembali menjadi tradisi yang memberikan dampak positif keberkahan untuk kemajuan peradaban negara,” terangnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *