Bahagianya Lansia Penghuni Panti Wreda Dikunjungi Ganjar dan Istri

Ketawa Bareng Ganjar, Gigi Palsu Ngasipah Sampai Mau Copot

SEMARANG (Asatu.id) – Peringatan Hari Ibu tahun ini begitu spesial bagi Ngasipah. Nenek berusia 84 tahun yang sehari-hari menghabiskan hidupnya di Panti Wredha Harapan Ibu, Ngaliyan, Semarang ini tak menyangka, ia mendapat ucapan spesial dari Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Yah, peringatan Hari Ibu tahun ini dirayakan secara spesial oleh Ganjar. Bersama istrinya, Siti Atikoh, Ganjar merayakan hari spesial itu dengan berbagi kebahagiaan bersama para penghuni Panti Wredha Ngaliyan, Minggu (22/12).

Kedatangan Ganjar bersama Atikoh yang tidak direncanakan itu membuat para penghuni panti geger. Mereka yang belum siap, menyambut Ganjar apa adanya. Tidak sempat mandi dan berdandan, hanya daster sederhana menempel di badan ibu-ibu penghuni panti yang mayoritas berusia di atas 60 tahun itu.

“Senenge ditekani Pak Ganjar (senangnya didatangi pak Ganjar). Tapi aku durung adus, isin aku (tapi saya belum mandi, saya malu),” kata Ngasipah kebingungan.

Tiba di lokasi pukul 06.15 WIB, Ganjar langsung disambut senyuman dan pelukan ibu-ibu penghuni panti. Dengan antusias, mereka menyambut Ganjar dengan cerita-cerita semasa muda, termasuk Ngasipah. Kepada Ganjar, ia menceritakan tentang kehidupannya semasa muda yang penuh dengan petualangan.

Tawa lepas dan kebahagiaan begitu terlihat saat Ngasipah dan Ganjar ngobrol bersama. Saking senangnya, gigi palsu Ngasipah sampai mau copot karena terpingkal-pingkal dengan aksi Ganjar yang lucu.

“Mbah ojo banter-banter ngguyune (mbah jangan keras-keras tertawanya), kui untune arep ucul (itu giginya mau lepas),” kata Ganjar meledek.

Bukannya berhenti tertawa, banyolan Ganjar itu justru membuat warga asli Mrican Semarang ini semakin keras tertawa dan memukul-mukul tubuh Ganjar. Gigi palsunya terlihat bergoyang-goyang lucu di mulutnya.

Apalagi, saat Ganjar bercanda bahwa ia juga tinggal di Mrican. Ganjar menduga, jangan-jangan Ngasipah adalah kakak kandungnya.

“Bapak ki lucu, aku anak siji-sijine pak (saya anak satu-satunya pak), kok senenge ngaku-ngaku (kok senangnya mengaku-aku), ” kata Ngasipah sambil terbahak.

Kelucuan lainnya saat seorang penghuni panti bernama Jariyatun (80) meminta Ganjar untuk memijat badannya. Sambil merayu, Jariyatun nglendot ke Ganjar dan meminta dipijat badannya.

“Pak pijitin pak, aku pengen dipijet pak gubernur. Kapan maneh coba (kapan lagi coba),” kata dia.

Ganjar pun mengiyakan permintaan Jariyatun. Ia memijit badan nenek asal Lumajang, Jawa Timur itu dengan senang hati.

“Enak pak pijetane (enak pak pijitannya), seneng aku,” ucapnya sambil tersipu malu.

Ganjar sendiri begitu bahagia bisa bertemu dengan ibu-ibu penghuni panti Wredha Ngaliyan itu. Menurutnya, meski hanya berkunjung, namun hal itu dapat menjadi kebahagiaan bagi mereka.

“Mungkin karena jarang ada yang mengunjungi mereka, jadi saat ada yang datang mereka sangat senang. Ada rasa persaudaraan, mereka bisa bercerita dan bercanda bersama. Ini sesuatu yang membahagiakan, apalagi momentnya pas peringatan Hari Ibu, jadi saya hanya ingin berbagi cerita saja tentang bagaimana kemanusiaan yang adil dan beradab,” kata Ganjar.

Ganjar pun mengajak anak-anak muda khususnya generasi millenial untuk bisa menghargai orang tua. Sesekali, lanjut Ganjar, anak muda harus berkunjung ke panti-panti sosial, mengunjungi anak yatim piatu dan tempat-tempat seperti ini.

“Sekedar berkunjung dan memberikan hiburan, pasti akan banyak manfaat yang didapat. Minimal ada dua pelajaran yang bisa diambil, yakni bagaimana memahami orang lain serta mendidik kita membangun kepekaan sosial,” tutupnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *