Akhir Tahun Ini Sudah Ada Pesawat Mendarat di Bandara Ngloram

CEPU (Asatu.id) – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, akhir tahun ini bakal ada pesawat yang mendarat di Bandara Ngloram. Mendengar itu, Bupati Blora Djoko Nugroho mengungkapkan kebahagiaannya karena akhirnya bakal melihat hilir mudik pesawat di wilayahnya setelah menunggu 34 tahun.

Bandara Ngloram yang sudah ada sejak tahun 1980 itu, dibangun untuk mendukung proyek-proyek pertambangan minyak dan gas (migas) di Blora dan sekitarnya yang mulai berkembang. Pertama kali yang mendarat adalah Presiden Soeharto. Namun empat tahun setelah itu, bandara tidak lagi beroperasi. Hingga akhirnya Pemerintah memutuskan untuk membangun ulang bandara tersebut pada pertengahan 2018 silam.

“Ini akan jadi kebanggaan warga Blora. Jika kemarin-kemarin hanya untuk mainan anak-anak dan angon ternak, insya Allah akhir tahun ini ada pesawat yang mendarat,” kata Djoko saat mendampingi Ganjar Pranowo mengecek pengerjaan runway Bandara Ngloram Blora, Kamis (12/12).

Saat ini proses pembangunan Bandara Ngloram hampir merampungkan pengerjaan runway atau landasan pacu. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan akhir tahun akan melakukan ujicoba pendaratan pesawat yang pertama.

“Pengerjaan runway akan selesai pada 24 Desember mendatang. Kalau selesai akan kita ujicoba,” kata Ganjar.

Pada tahap awal ini, landasan pacu Bandara Ngloram yang dibangun sepanjang 1,2 km, dari panjang runway sebelumnya yang hanya sepanjang 900 meter. Untuk selanjutnya runway bakal diperpanjang hingga 2,6 km.

“Progresnya tanpa banyak bicara, insya Allah bandara jadi. Blora akan punya bandara dan kawan-kawan di Bojonegoro, nanti kita pakai bareng-bareng,” katanya.

Begitu pengerjaan runway selesai, pada Januari tahun depan mulai dilakukan penggarapan terminal, sehingga akhir tahun diharapkan bisa beroperasi. Dengan demikian akses peningkatan perekonomian masyarakat Blora dan sekitarnya akan terdongkrak. Terlebih, kata Ganjar, bandara tersebut sangat dekat dengan stasiun.

“Kalau kerjasamanya kompak begini, perekonomiannya terbuka, pariwisatanya terbuka dan masyarakatnya juga akan terbuka. Apalagi bandara ini dari stasiun Kapuan hanya 300 meter. Dekat sekali. Maka transportasi kereta dan bandara terintegrasi,” katanya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *