Atikoh Ajak Masyarakat Mencintai Ibu, Saudara dan Anaknya

SEMARANG (Asatu.id) – Kalangan perempuan Jawa Tengah mengampanyekan stop kekerasan terhadap perempuan dan anak dengan memanfaatkan event car free day, Minggu (8/12). Mereka berkumpul di Lapangan Pancasila (Simpanglima), kemudian berkeliling menyusuri seputaran Simpanglima dan Jalan Pahlawan sambil membawa aneka poster.

Jalan sehat dilepas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bersama Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah Atikoh Ganjar Pranowo, Kapolda Jateng Rycko Amelza Dahniel didampingi Ketua Bhayangkari Daerah Jawa Tengah, Yudaningrum Rycko Amelza Dahniel, serta Pangdam IV/Diponegoro Mochamad Effendi bersama Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Daerah IV/ Diponegoro, Septiana M Effendi.

Mengenakan atribut adat nusantara, sejumlah perempuan mengangkat poster-poster bertuliskan imbauan kesehatan maupun kampanye antikekerasan terhadap perempuan dan anak. Seperti “Cegah Pernikahan Dini”, “Ayo Olahraga”, “Gerakan Masyarakat Sadar Stunting”, “Siapa Bilang Makanan Bergizi Mahal”, dan sebagainya.

Setibanya kembali di Lapangan Simpanglima, Ketua Tim Penggerak PKK, Atikoh Ganjar Pranowo, kembali mengajak masyarakat untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan dan anak, dan mencegah perkawinan anak. Terus lakukan edukasi agar anak-anak bisa mencapai cita-citanya terlebih dulu, sehingga ketika memasuuki bahtera rumah tangga, mereka sudah siap, baik fisik, mental, anatomi tubuh, maupun ekonomi. Dengan begitu, ketahanan keluarga juga bisa tercapai.

“Stop kekerasan terhadap perempuan dan anak. Cintailah ibu kita, cintai saudara kita, cintai anak kita. Pada kesempatan yang bagus ini, sesuai dengan tema Hari Ibu, Perempuan Berdaya Indonesia Maju, SDM Unggul Indonesia Maju, maka kita harus men-support anak-anak kita untuk bisa menggapai mimpinya. Stop perkawinan anak,” tegasnya.

Diakui, data kekerasan terhadap perempuan dan anak, termasuk di Jawa Tengah, bak fenomena gunung es, karena tidak semua korban berani melaporkan kekerasan yang dialami.

Namun, setidaknya dari aspek ketertiban dan kepedulian masyarakat untuk mencegah sekaligus melaporkan saat ada kekerasan, Jateng termasuk yang paling baik. Sehingga kejadian terdata dengan baik, untuk selanjutnya dilakukan upaya pencegahan kekerasan yang berkelanjutan.

“Ini tetap menjadi PR kita karena kekerasan terhadap perempuan kebanyakan ranah privat. Bagaimana kita bisa mengedukasi para perempuan agar mereka tidak takut untuk melaporkan, agar bisa dimediasi, atau kalaupun suami istri bisa dimediasi agar suami tidak lagi melakukan kekerasan,” terang Atikoh.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *