Gerkatin kota semarang, Organisasi Yang Mensejahterakan Tuna Rungu

SEMARANG (Asatu.id) – Gerkatin atau Gerakan kesejahteraan untuk tuna rungu Indonesia merupakan sebuah organisasi tingkat nasional yang bertujuan mensejahterakan tuna rungu di seluruh Indonesia agar setara dengan masyarakat pada umumnya.

Organisasi yang berdiri pada 30 juni 1981 di Semarang ini hanya beranggotakan teman-teman tuli. Dalam organisasi ini dibagi menjadi dua kelompok yaitu teman tuli senior dan kepemudaan atau junior.

Teman tuli senior berisi orang dewasa yang sudah bekerja, berumah tangga, dan yang sudah tidak bersekolah lagi. Sedangkan teman tuli kepemudaan/junior berisi anak-anak muda yang masih sekolah baik di sekolah menengah sampai mahasiswa.

Tuli dan tuna rungu memiliki perbedaan dalam arti konotasinya, tuli berarti sebuah identitas sosial yang memiliki kemampuan bahasa isyarat. Sementara tuna rungu berarti rusak pendengaran, padahal secara umum pendengaran mereka tidak rusak tetapi anugrah dari tuhan.

Kepengurusan Gerkatin dibagi menjadi tiga yaitu DPP untuk tingkat nasional, DPD untuk tingkat provinsi dan DPC untuk tingkat kabupaten atau kota.

Di wilayah provinsi jawa tengah tidak semua kota atau kabupaten ada, yang ada hanya di Pati, Pekalongan, Wonosobo, Temanggung, Banjarnegara, Banyumas, Semarang, Solo, Magelang, Kebumen dan Brebes.

Bentuk kegiatan Gerkatin bermacam-macam diantaranya pertemuan rutin yang membahas tentang lowongan pekerjaan untuk teman tuli yang masih menganggur, advokasi aksesbilitas di berbagai Lembaga yang ada di Semarang, nonton bioskop yang terdapat subtitlenya walaupun film tersebut merupakan film lokal, car free day bahasa isyarat, kelas bahasa isyarat dan lain-lain.

Aksesbilitas yang dibutuhkan teman tuli berupa bahasa isyarat, tulisan, dan juru ketik. Oleh karena itu, apabila teman tuli ingin mendapatkan akses maka Gerkatin melakukan advokasi ke teman dengar melalui kegiatan car free day bahasa isyarat dan kelas bahasa isyarat.

Jenis bahasa isyarat yang sering di ajarkan pada teman dengar disebut dengan bisindo (bahasa isyarat Indonesia). Kegiatan car free day bahasa isyarat dilaksanakan setiap hari minggu jam 06:00-09-00 WIB di simpang lima yang merupakan kegiatan rutin Gerkatin setiap hari minggu. Sementara kegiatan kelas bahasa isyarat setiap 2 bulan 10 kali di klub Merby, Simpang Lima.

“Gerkatin itu mengadakan kelas bisindo untuk teman dengar dengan membayar Rp 150.000 selama 10 kali pertemuan dan kita tidak mencari penerjemah. Tetapi kita ingin Semarang ramah bahasa isyarat,” ucap Bebe Stevia selaku Sekretaris Gerkatin Cabang Kota Semarang.

Selain itu bebe juga menambahkan “kami mengajak teman dengar siapapun yang mau belajar bisindo akan diterima yang penting mau belajar bersama kami”.(Megi Setiawan)

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Chik matul Jamal berkata:

    Gerkatin jepara ( tuna rungu )

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *