Zakat Jateng Potensial Bantu Pengentasan Kemiskinan

SEMARANG (Asatu.id) – Potensi zakat Provinsi Jawa Tengah mencapai lebih dari Rp200 miliar per tahun. Potensi dari zakat penghasilan ASN di pemprov dan kabupaten/kota tersebut, mampu membantu mengentaskan kemiskinan yang tersebar di kabupaten dan kota se-Jateng, yang masuk zona merah.

Pernyataan itu terungkap pada dialog interaktif di Stasiun TVRI Jateng, Jumat (18/10). Hadir sebagai narasumber dalam dialog bertema “Bagaimana Upaya Pengentasan Kemiskinan di Jateng” itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jateng KH Ahmad Darodji, dan Rektor Universitas Islam Negeri Walisongo KH Imam Taufik.

“Upaya pengentasan kemiskinan memerlukan metode dan strategi yang fokus. Selain itu juga butuh komitmen pemerintah dan dukungan dari berbagai pihak, salah satunya memanfaatkan potensi zakat ASN di Jateng,” kata Wagub Taj Yasin.

Dia menyebutkan, angka kemiskinan di Jateng masih cukup tinggi atau sekitar 10,8 persen atau 3,7 juta jiwa. Berbagai upaya dilakukan, antara lain pembangunan infrastruktur untuk mempermudah akses ekonomi hingga pelosok desa, peningkatan kualitas sumberdaya manusia melalui beragam pelatihan keterampilan, pemberian beasiswa bagi siswa tidak mampu, serta program ‘Satu SKPD Satu Desa Binaan’ yang diinisiasi Pemprov Jateng.

Ditambahkan, beberapa tahun terakhir, Pemprov Jateng bekerja sama dengan Baznas Jateng melakukan pelatihan untuk meningkatkan SDM. Antara lain pelatihan ketenagakerjaan, pelatihan membuat makanan ringan, pembudidayaan ikan lele, pertanian dan sebagainya.

“Beberapa waktu lalu kita sudah melakukan pelatihan tenaga konstruksi bangunan, sehingga setelah peserta mendapatkan sertifikat dan bekerja sesuai keahliannya bisa mendapatkan hak-haknya. Bahkan tidak sedikit warga yang telah mengikuti pelatihan dan bersertifikat mendapatkan pekerjaan di beberapa negara tetangga,” bebernya.

Ketua Baznas Jateng, Ahmad Darodji menjelaskan, potensi zakat di Jateng sangat strategis dalam upaya pengentasan kemiskinan. Satu kabupaten/kota rata-rata mampu mengumpulkan kurang lebih Rp5 miliar per tahun. Apabila besaran tersebut dikumpulkan dari 35 kabupaten/ kota di Jateng dan ditambah dari Pemprov Jateng sebesar Rp70 miliar-Rp75 miliar per tahun.

“Jika potensi tersebut dapat terlaksana, maka angka Rp250 miliar per tahun akan menjadi kenyataan untuk mengentaskan kemiskinan,” ujarnya.

Tingginya potensi zakat di Jateng, lanjut Darodji, tidak lepas dari peran gubernur dan wakil gubernur Jawa Tengah yang terus mendorong ASN dalam mengeluarkan zakat. Sehingga Baznas Jateng turut berpartisipasi dan berkontribusi dalam penanggulangan kemiskinan dengan jumlah tertinggi tersebar di 14 kabupaten.

“Mengentaskan kemiskinan adalah tugas kita bersama. Allah juga memerintahkan agar dalam membantu sesama kita harus mengutamakan warga miskin.

Dalam waktu dekat, Baznas bersama pihak swasta juga akan ikut mengentaskan kemiskinan yang difokuskan dalam satu desa di satu kecamatan,” katanya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *