Kemarau Diprediksi Lebih Lama

SEMARANG (Asatu.id) – Staf Ahli Bidang Keterpaduan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI, Ahmad Gani Ghazaly mengatakan, pihaknya sudah menerapkan standar pembangunan rumah di Indonesia, di mana salah satu yang lolos uji ketahanan gempa adalah bangunan jenis Risha (Rumah Instan Sederhana Sehat).

Bangunan jenis itu telah lolos uji ketahanan gempa di Palu dan Lombok. Namun menurutnya, publikasi mengenai jenis rumah yang dapat diterapkan di Indonesia itu belum sampai pada masyarakat secara umum.

“Ada 16 jenis rumah yang memang secara teoritis maupun praktis tahan terhadap gempa. Nah ini mungkin harus bersama-sama dengan RRI, bersama-sama dengan Pemerintah Daerah untuk menyosialisasikannya,” ungkap Ahmad Gani dalam Dialog Interaktif Mitigasi Bencana LPP RRI Semarang Program Kentongan bertajuk tema “Masyarakat Tanggap Bencana” di Auditorium Universitas Semarang, Kamis (5/9) lalu.

Ia menambahkan, setidaknya ada tiga jenis rumah tahan gempa sudah pasti tahan terhadap guncangan tanah ketika terjadi gempa, rumah ramah gempa adalah rumah yang hanya goyang-goyang ketika terjadi gempa dan rumah tidak tahan gempa adalah rumah yang langsung rubuh ketika gempa melanda.

“Rata-rata rumah-rumah yang tradisional itu ramah gempa karena dibangun berdasarkan ilmu dari nenek moyang. Jadi bagaimana bentuk susuk, bagaimana bentuk pasak, bagaimanapun itu berdasarkan ilmu turun-temurun disampaikan kepada masyarakat. Nah banyak rumah-rumah adat itu dibangun dari kayu. Inilah yang kenapa rumah-rumah adat dari Banda Aceh maupun sampai ke Papua menggunakan kayu,” tegas Ghani.

Ia menegaskan, setidaknya ada 16 jenis rumah yang bisa diterapkan di Indonesia agar rumah-rumah masyarakat tahan gempa. Akan tetapi perlu diingat bahwa di Indonesia tidak hanya bencana gempa bumi namun juga tsunami dan lainnya. Sehingga konstruksi bangunan harus disesuakan dengan potensi gempa yang akan dihadapai oleh masyarakat dalam suatu wilayah.

Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Semarang, Tuban Wiyoso menginformasikan, saat ini musim kemarau di Jawa Tengah lebih kering dari rata-rata, dan dalam kurun waktu yang lebih lama juga dari rata-rata musim kemarau. Sehingga musim penghujan turun satu hingga tiga dasarian (1 dasarian=10 hari).

Diperkirakan Jawa Tengah nantinya akan mulai turun hujan pada bulan Oktober dengan curah hujan tinggi di bulan November.

“Jadi dalam musim hujan itu tidak selalu tidak ada panas sama sekali, dan musim kemarau tidak selalu sama sekali tidak ada hujan. Ada hujan tapi ada lokal dan curah hujannya tidak tinggi,” ungkapnya.

Tuban menambahkan BMKG Semarang telah melakukan publikasi mengenai prakiraan cuaca kepada masyarakat melalui media sosial pada instansi-instansi terkait, memanfaatkan fasilitas youtube untuk publikasi audio visual, surat, buletin, serta media massa. Informasi disampaikan rutin setiap enam atau 12 jam sekali, harian, bulanan, hingga musiman.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *