Jateng Terima Anugerah Budhipura 2019

DENPASAR (Asatu.id) – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meraih peringkat ketiga Anugerah Budhipura 2019. Penghargaan diserahkan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) RI, M Nasir kepada Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen, pada Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas) ke-24, di Lapangan Nitimandala Renon, Denpasar, Bali pada Rabu, (28/8).

Untuk tingkat kabupaten/kota, Kabupaten Wonogiri mendapat peringkat kedua, dan Kota Tegal juara ketiga. Sebelumnya, berdasarkan hasil  tahap pengukuraan IDSD, Provinsi Jawa Tengah masuk menjadi nominator yang berhak maju dalam tahap presentasi bersama dengan Provinsi Riau, Sumatera Selatan, Jawa Barat, DIY, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.

Pada tahap presentasi yang dilaksanakan pada Senin, 29 Juli 2019 lalu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo hadir secara pribadi untuk presentasi terkait pelaksanaan inovasi di Jawa Tengah.

Anugerah Budhipura merupakan anugerah yang diberikan kepada Pemerintah Provinsi sebagai apresiasi atas prestasi dalam penguatan sistem inovasi di wilayahnya, dalam pembinaan kabupaten dan kota, baik dalam bentuk kebijakan, fasilitasi  sumber daya, maupun penciptaan  iklim kondusif bagi pengembangan dan penguatan inovasi pada kabupaten dan kota.

Sehingga dapat dihasilkan inovasi  dengan nilai tambah, dalam bentuk komersial, ekonomi maupun  sosial-budaya, sehingga berdampak kepada peningkatan daya saing dan kesejahteraaan masyarakat yang tinggi dan berkelanjutan.

Penilaian Anugerah Budhipura dilaksanakan melalui dua tahap, yaitu tahap pengukuran indeks daya saing daerah (IDSD) dan tahapan presentasi.

Pengukuran indeks daya saing daerah (IDSD) diharapkan dapat menggambarkan kondisi dan kemampuan suatu daerah dalam mengoptimalkan seluruh potensi yang dimilikinya melalui peningkatan produktifitas, nilai tambah dan persaingan baik domestik maupun internasional demi kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan.

IDSD juga dapat diartikan sebagai refleksi tingkat produktivitas, kemajuan, persaingan dan kemandirian suatu daerah dan dapat digunakan sebagai indikator untuk menilai keberhasilan suatu daerah untuk dapat bersaing dengan daerah lain dan mendukung daya saing nasional.

Daerah dengan skor IDSD  tertinggi diartikan sebagai daerah  yang berhasil secara optimal memanfaatkan segala potensi  yang dimiliki sebagai upaya  menciptakan daya saing dan kesejateraan yang tinggi dan berkelanjutan.

“Di era globalisasi ini kan menuntut pemerintah daerah untuk siap menghadapi persaingan yang semain ketat dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Kami, Pemprov Jateng tentu harus adaptif dan inovatif untuk memanfaatkan potensi yang dimiliki guna mempercepat pembangunan daerah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat yang berkelanjutan,” kata Gus Yasin, sapaan akrab Taj Yasin Maimoen.

Kemampuan daya saing (competitiveness), imbuh Gus Yasin, menjadi salah satu parameter dalam konsep pembangunan daerah berkelanjutan.

Semakin tinggi tingkat daya saing suatu daerah, maka tingkat kesejahteraan masyarakatnya pun semakin tinggi.

“Tentu, penghargaan ini menjadi kebanggaan sekaligus memotivasi agar kita bisa lebih baik lagi ke depan,” tandasnya.

Kepala Bappeda Provinsi Jawa Tengah, Prasetyo Aribowo menambahkan, sesuai arahan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, spirit inovasi  baik dibidang pelayanan publik, tata kelola pemerintahan dan inovasi lainnya yang menjadi kewenangan daerah termasuk inovasi produk/masyarakat dan perguruan tinggi, contohnya krenova terus digelorakan.

“Itu sebabnya kita selalu masuk tiga besar peringkat nasional. Tahun depan kita targetkan yang terbaik,” harapnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *