Ganjar Ladeni Anak-anak Panti Lomba Makan Kerupuk Katrol

SEMARANG (Asatu.id) – Makan krupuk menjadi salah satu lomba yang paling populer di kalangan masyarakat Indonesia dalam rangka memeriahkan HUT ke-74 Kemerdekaan RI.

Jika biasanya krupuk hanya diikat pada sebuah tali dan digantungkan begitu saja, namun dalam beberapa tahun ini dengan katrol, yaitu salah satu ujung tali diikat di kerupuk, dan ujung yang satunya lagi diikat di jempol kaki sang bocah.

Tantangan besar dihadapi ketika peserta mencoba untuk menggigit kerupuk yang menggantung tersebut. Ia harus mengangkat kaki yang terikat dengan tali tersebut agar kerupuk yang berada di ujung tali satunya lagi dapat dijangkau olehnya.

Tekniknya, peserta harus berdiri dengan satu kaki agar kerupuk yang ingin digigitnya dapat diraih. Apabila ia menjatuhkan kakinya ke tanah, secara otomatis kerupuk tersebut akan naik dan tidak dapat terjangkau karena terlalu tinggi.

Seperti yang terlihat di Panti Asuhan Yatim Piatu Pahlawan Gatot Subroto yang ada di Jl Sultan Agung, Semarang, Minggu (18/8) pagi. Usai bersepeda berkeliling Kota Semarang, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, sang istri tercinta Siti Atikoh dan rombongan Women’s Cycling Community (WCC), berkunjung ke panti asuhan tersebut untuk “menantang” anak-anak lomba makan kerupuk dengan sistem katrol.

Kaki kiri Ganjar pun diikat tali. Ujung satunya, ditali dengan kerupuk. Politisi PDI Perjuangan itu tak hanya “melawan” anak-anak panti, tetapi juga sang istri dan anggota WCC. Setelah peluit ditiup sang wasit, Ganjar dan peserta lainnya mulai makan kerupuk sambil salah satu kakinya diangkat. Dengan sigap dan tenang Ganjar berhasil memakan kerupuk sampai habis karena mampu menjaga keseimbangan.  Peserta lain, meski sudah mengangkat kaki, kerupuk belum juga berhasil digigit, tetapi malah berputar-putar di depan mulut.

“Gimana ini, kerupuknya malah muter-muter,” ujar Atikoh sambil tertawa.

Salah satu anak panti, Sandi (7), tanpa mempedulikan aturan, kerupuk yang ada di depan mukanya pun ia pegang dengan tangan dan dimakan langsung. Meski dengan cara itu, Sandi tak bisa mengalahkan Ganjar Pranowo.

“Pemenangnya adalah Bapak Ganjar Pranowo,” kata wasit disambut tepuk tangan.

Di panti asuhan yang didirikan Jendral TNI Gatot Subroto pada 20 Mei 1964 dan menampung 22 anak itu, Ganjar dan WCC tidak hanya bermain bersama lomba makan kerupuk, memasukkan pensil ke dalam botol dan estafet tepung dengan piring, tetapi juga menyerahkan bantuan sembako, alat tulis, peralatan mandi, kaos, gembes dan sarapan nasi kuning bersama.

Ganjar pun mengingatkan kepada anggota WCC maupun anak-anak panti asuhan dengan mengutip kata-kata Gus Dur. Ketika kita menolong orang, orang tidak akan bertanya apa agamamu, apa sukumu. Sehingga, pada masa setelah kemerdekaan ini, kita tidak perlu lagi mempersoalkan atau membedakan suku, agama ataupun ras. Saling menghormati, menghargai satu sama lain, akan menciptakan hidup yang sejuk dan damai.

“Begitu pula, anak-anakku sekalian. Hormati para pengasuh di sini sebagai orang tua kalian,” tandasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *