Di Hadapan Wagub, Soina Jateng Bertekat Sabet Juara di India

SEMARANG (Asatu.id) – “Soina jaya, Indonesia juara. Soina jaya, Indonesia juara.”

Yel-yel penuh semangat itu bergema di ruang rapat Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen saat tim Special Olympics Indonesia (Soina) Jawa Tengah menyambangi kantornya, baru-baru ini.

Delapan atlet putri penyandang tunagrahita itu memohon doa restu Gus Yasin untuk berlaga pada Asia Pasific Special Olympic International Football Championship (SOIFC) 2019 yang berlangsung 3 Agustus 2019 di India. Didampingi pelatihnya, Andi Permadi, mereka rutin berlatih di lapangan hijau demi mempersiapkan diri secara matang dan mampu mengukir prestasi.

“Mereka sebenarnya sudah mempunyai dasar kemampuan sepak bola. Kita berkumpul untuk menyatukan chemistry agar mereka menjadi sebuah tim yang benar-benar kompak karena anak-anak berasal dari beberapa daerah. Ada yang dari SLB Temanggung, Muntilan, dan Magelang,” kata Andi.

Dia bahagia karena Pemprov Jateng selalu mendukung atlet-atlet Soina Jateng, sehingga mereka semangat berlaga. Andi yakin, dengan latihan rutin dan kekompakan mereka, tim Soina Jawa Tengah mampu menyabet juara.

“Terima kasih atas support Pemprov. Semoga tim Soina Jawa Tengah yang mewakili Indonesia pada ajang Soina Special Asia Pasific mendapatkan hasil terbaik. Kita akan berusaha maksimal,” ujarnya.

Taj Yasin pun merasa bangga atas prestasi yang ditorehkan oleh atlet-atlet Soina Jawa Tengah. Tak hanya sekali mereka menjadi jawara pada kejuaraan tingkat dunia. Sebelumnya mereka sukses berlaga pada Olimpiade Musim Panas di Abu Dhabi.

“Tim pesebakbola tunagrahita ini sudah beberapa kali menorehkan prestasi, bahkan ada yang lima kali memeroleh medali. Ini menunjukkan bahwa di balik kekurangan pasti ada potensi yang bisa kita arahkan, kita kembangkan,” ujarnya.

Gus Yasin, sapaan akrab wakil gubernur, pun mengajak masyarakat Jateng mendoakan atlet-atlet SOIna Jateng yang segera berlaga di India. Dukungan tersebut merupakan motivasi terbesar mereka untuk bersemangat mengukir prestasi, di balik ‘keistimewaan’ yang mereka miliki.

“Kami himpun apa yang dibutuhkan oleh teman-teman disabilitas. Ternyata yang mereka butuhkan adalah akses, termasuk agar mereka bisa berkomunikasi dengan pemerintah, sehingga bisa didengar aspirasinya. Suatu saat, tidak menutup kemungkinan ada deklarasi provinsi ramah disabilitas,” pungkasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *