PWI Gagas Pendidikan Spesialis untuk Wartawan

SEMARANG (Asatu.id) – Pergeseran dunia membuat media pun bergeser. Produksi koran kertas semakin berkurang karena mahalnya bahan baku dan biaya operasional. Namun, apakah aktivitas jurnalisme, cara kerja wartawan juga ikut berubah?

Komisi Pendidikan PWI Pusat, Hendro Basuki menegaskan, pergeseran media di era yang penuh disruption, tak membuat cara kerja media berubah.

Manajemen newsroom tetap tidak berubah. Mereka hanya perlu beradaptasi menyesuaikan dengan kondisi yang ada sekarang.

Dia menunjuk contoh, koran kertas yang mungkin saja menghilang karena bahan baku dan biaya operasional mahal.

Ditambah, selera baca masyarakat yang bergeser dari kertas ke online, dan diperkirakan nantinya akan bergeser lagi.

“Tapi, apa itu akan mati? Ketika lahirnya TV, radio apa mati? Apa serbuan digital juga membuat TV mati? Tidak, hanya bergeser dan tinggal membutuhkan proses adaptasi. Cara kerja media juga tidak berubah. Dari saya menjadi wartawan pada tahun 1981 sampai sekarang, manajemen newsroom tidak berubah,” tegas Hendro, saat Pembukaan Uji Kompetensi Wartawan PWI Jateng, di Star Hotel, Kamis (25/7).

Melihat kondisi tersebut, dia mengajak wartawan untuk bisa mengoptimalkan teknologi untuk penyampaian informasi kepada masyarakat.

Jika YouTubers saja bisa mencuri perhatian masyarakat dengan konten yang dibuat, wartawan mestinya bisa lebih dari itu.

Namun, tentu ada yang mesti ditaati, setidaknya mematuhi Kode Etik Jurnalistik, Undang-undang Pers, Undang-undang ITE, dan Undang-undang Sistem Peradilan Anak.

“Ini jadi bagian dari mata uji di Uji Kompetensi ini. Awal 2019 lalu, Jawa Tengah yang pertama memraktikkan materi uji 1.1, 2.1, dan 3.1, Kode Etik Jurnalistik.

Karena banyak laporan di Dewan Pers yang pelanggarannya fatal, ketika ditanya ternyata wartawannya tidak pernah baca Kode Etik Jurnalistik dan UU 40/1999 (tentang Pers),” bebernya.

Hendro juga mengungkapkan, masih banyaknya pengaduan yang masuk ke Dewan Pers, di mana setahun, rata-rata ada 500 aduan.

Dalam hal ini, PWI merasa harus bertanggung jawab, dan menyikapi dengan memperbanyak uji kompetensi bagi wartawan. Dari sekitar 16 ribu-18 ribu orang anggota PWI, sudah 12 ribu orang wartawan yang dinyatakan kompeten.

“Bahkan PWI berfikir untuk memberikan pendidikan spesialis. Jadi, nantinya ada wartawan utama spesialis liputan olahraga, atau wartawan utama spesialis liputan politik, dan seterusnya, sehingga kapasitas diri mereka lebih kuat,” terangnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *