Kunjungi Rumah Mbah Siti di Desa Bantir, Ganjar Kenang Masa KKN 25 Tahun Lalu

TEMANGGUNG (Asatu.id) – Peristiwa unik, langka dan penuh makna, terjadi di Desa Bantir, Candiroto, Temanggung. Seorang nenek tiba-tiba teriak dan langsung menubruk Ganjar Pranowo ketika Gubernur Jawa Tengah itu memarkir motor di depan rumah tuanya, Sabtu (20/7). 

Kedatangan Ganjar yang tidak direncanakan itu sontak membuka memori-memori yang telah tersimpan selama 25 tahun.

Ganjar yang tengah kunjungan ke Temanggung naik motor tiba-tiba berbelok ke arah Desa Bantir. Tidak berselang lama, Ganjar berhenti di depan rumah tua dan langsung memarkir motornya.

Begitu melepas helm, tiba-tiba seorang nenek dari seberang rumah lari tergopoh-gopoh sambil teriak histeris.

“Ya Allah, aku ngimpi opo mau bengi. Iki aku ora nglindur to? Iki Mas Ganjar?” Teriak nenek-nenek itu dan langsung memeluk dan menciumi Ganjar.

“Nggih leres niki Ganjar,” jawab Ganjar sambil tersenyum.

“Lha kok rene ora kondo-kondo (ke sini kok tidak bilang-bilang) ya Allah ngimpi opo aku?” katanya yang masih tidak percaya dengan kehadiran orang nomor satu di Jawa Tengah itu.

Nenek itu adalah pemilik rumah yang ditempati Ganjar semasa Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada 1994 atau 25 silam.

Namanya Siti Riyati, suami almarhum Soekarno, Kepala Urusan Pemerintahan Desa Bantir. Wajar saja Mbah Siti histeris, karena begitu KKN selesai baru kali ini Ganjar mengunjungi rumahnya.

Sejurus kemudian Mbah Siti membukakan pintu rumah dan mempersilakan Ganjar.

“Ini rumahnya Kak Karno, sekarang ditempati anaknya, Mas Timbul. Kalau ini istri Pak Karno, Mbah Siti. Oalah Ono fotoku to,” kata Ganjar yang langsung dlusupan sampai ke belakang.

Beberapa kamar dia buka pintunya. Lagi-lagi Ganjar nampak tersenyum sendiri seolah menyaksikan tingkah polahnya semasa KKN bersama kawan-kawannya, termasuk Siti Atikoh yang akhirnya dia pinang sebagai istri.

“Dulu KKN di sini bareng Bu Atik. Walah malah dadi bojone. Tahu-tahu kok malah dadi Gubernur,” kata Mbah Siti.

Kenangan Ganjar semakin terbayang lengkap ketika Siti mengulik masakan-masakan yang biasa dimakan Ganjar dan kawan-kawan.

“Kalau adanya tempe ya tak masakin tempe, kalau adanya sawi ya sawi. Semuanya makan apa adanya. Adanya sambel sama tahu juga dimakan,” katanya.

Cerita masakan itu seperti jadi umpan bagi Ganjar untuk masuk lebih dalam ke masa lalu. Sambil tertawa, Ganjar mengisahkan hanya satu masakan yang ditolak oleh kawan-kawannya dan Siti Atikoh.

Setiap seminggu sekali, kata Ganjar, Mbah Siti menyuguhkan masakan istimewa, lele goreng. Tapi tidak satu pun temannya, termasuk Siti Atikoh bersedia makan.

“Itu kan ibu ngambilnya lele dari kolam depan rumah. Nah di kolam itu setiap pagi saya BAB,” kata Ganjar yang langsung membuat seisi ruangan tertawa.

Selain memorabilia, kisah-kisah itu seperti jadi obat lelah Ganjar setelah seharian mengendarai sepeda motor keliling Semarang dan Temanggung.

Namun Ganjar merasa ada yang sedikit kurang, karena anak almarhum Soekarno tidak di rumah. Dia tengah ziarah ke Jawa Timur bersama rekan kerjanya.

“Mas Timbul itu teman tidurku dulu. Lha adiknya Timbul mana? Oalah ini tho, Atik. Dulu masih kecil dia,” kata Ganjar.

Setelah mengenang beberapa pertemuan dengan keluarga Soekarno itu, Ganjar lantas minta undur diri dan berjanji bakal kembali lagi.

“Tidak bisa nginep. Ini tadi saya cuma mampir, mau ke wisata Jumprit. Yo wes aku lungo sek,” kata Ganjar yang langsung dikerubungi warga untuk foto bersama.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *