Menikmati Masakan Khas Nusantara, Sembari Belajar Aneka Rempah dan Bahan Pangan Kuno di Javara Culture Kota Lama Semarang

Helianti Hilman, Founder and CEO Javara Indigenous Indonesia

SEMARANG (Asatu.id) – Aneka ragam rempah-rempah alami khas Indonesia yang kian hari kian terlupakan kini seakan hidup dan menggeliat kembali melalui pameran Produk Pangan Terlupakan yang digelar oleh Javara Culture di Gedung Oudetrap, Kawasan Kota Lama, Semarang, Sabtu (13/7).

Founder and CEO Javara Indigenous Indonesia, Helianti Hilman mengatakan, melalui pameran tersebut, pihaknya ingin memperkenalkan kembali rempah-rempah yang merupakan kekayaan asli di bumi nusantara.

“Menggelar pameran Produk Pangan Terlupakan sekaligus Launching Javara Culture di Kota Lama. Tujuannya adalah mengajak masyarakat Indonesia untuk kembali mengenal bahan pangan yang selama ini hampir terlupakan,” Katanya.

Lebih lanjut, Helianti mengungkapkan, selama 10 tahun membawa produk-produk pangan terlupakan, pihaknya sudah mengumpulkan sebanyak 76 jenis rempah dan bahan pangan kuno yang asli berasal dari Indonesia.

“Padahal jika dilihat dari sejarah, untuk jenis rempah dan bahan pangan kuno asli indonesia jumlahnya lebih dari 166 jenis. Kita masih berusaha untuk menggali dan menemukan sisanya,” ungkapnya.

Helianti pun mengungkapkan, saat ini pihaknya terus berupaya memperkenalkan produk rempah dan bahan pangan kuno tersebut kepada masyarakat di Indonesia.

“Kita melibatkan hampir seluruh Petani, Perimba, dan Nelayan yang ada di Indonesia dari sabang sampai Merauke untuk menghasilkan bahan-bahan tersebut,” paparnya.

Pihaknya memulainya dari delapan produk di 2008. Sekarang telah menjadi 900 produk, dengan 300 diantaranya telah bersertifikasi organik standar ekspor Amerika dan Jepang. Melibatkan 52.000 mitra petani, perimba dan nelayan yang tersebar di sekitar 24 daerah di Indonesia.

“Hingga saat ini Javara Culture sudah mengekspor ke dua puluh negara. Hanya saja, saya bercita-cita agar orang Indonesia juga bisa menikmati dan menghargai keberkahan produk alam dalam negeri yang sangat beragam,” katanya.

Adapun jenis bahan pangan yang selama ini mulai terlupakan yakni, garam yang terbuat dari tanaman gula yang terbuat dari nipah, 14 jenis jagung dari Pulau Kisar, dan rempah-rempah lainnya.

“Sangat disayangkan apabila harta melimpah milik Indonesia tersebut harus terlupakan,” ungkapnya.

 Untuk Javara Culture Cafe yang ada di Kota Lama sendiri menurut Helianti, akan memberikan kesan berbeda kepada setiap pengunjung yang hadir. Dimana dengan mengusung konsep ”Shop – Eat – Learn”, Javara Culture diharapkan mampu membuat konsumen tidak hanya sekadar membeli produk rempah.

“Konsumen juga bisa menikmati aneka sajian makanan dan pangan terlupakan warisan nusantara yang sehat karena tanpa ada pengawet kimia,” paparnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita G. Rahayu mengapresiasi adanya Javara Culture Cafe di kawasan Kota Lama. Menurutnya restoran tersebut dibutuhkan masyarakat yang saat ini gencar dengan gaya hidup sehat.

“Sekarang banyak orang sakit dam dituntut untuk sehat. Dengan adanya ini jadi alarm dengan makanan yang alami dan sehat,” katanya.

Keberadaan Javara Culture Cafe menurutnya juga mewarnai kawasan Kota Lama. Juga menambah bahan pembuatan dokumen ke UNESCO sebagai bahan atau konten yang original asli Indonesia.

“Adanya Javara Culture Cafe ini menambah konten-konten lokal untuk dijual selain bangunan yang ada,” imbuhnya. (bud)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *