Pentas Wayang Guyon Undang Ribuan Warga Datangi Taman Indonesia Kaya

SEMARANG (Asatu.id) – Ribuan orang hadir dan menyaksikan pagelaran wayang guyon bertajuk ‘Punakawan The Peace Maker’ di Taman Indonesia Kaya, Jumat (28/6) malam.

Pentas dalam rangkat HUT Kota Semarang ke 472 yang jatuh 2 Mei 2019 itu, digelar oleh Pemerintah Kota Semarang bekerja sama dengan kelompok seni Wayang Orang Bharata dan Tirang Community, serta didukung Bakti Budaya Djarum Foundation.

Tampilnya Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, Wakil Wali Kota Semarang Hevearita G. Rahayu, menambah semaraknya suasana pentas wayang guyon. Apalagi ditambah penampilan publik figur seperti Indy Barends daa Indra Bekti, yang penuh sentilan dan lelucon.

Selain Jajaran Pemerintah Kota Semarang, ada juga keterlibatan Wayang Jurnalis dari kota Semarang, mulai dari reporter, fotografer, dan presenter lintas media.

“Pagelaran Wayang Guyon di Taman Indonesia Kaya ini merupakan salah satu rangkaian dari perayaan HUT Kota Semarang yang jatuh pada 2 Mei kemarin. Segenap jajaran Pemerintah Kota Semarang, rekan jurnalis Semarang, dan kelompok seniman asal Jakarta dan Semarang bekerja sama untuk memberikan sajian yang menghibur bagi masyarakat kota Semarang. Ada juha penampilan istimewa dari Indy Barends dan Indra Bekti. Pasti acara malam ini sangat menarik,” ujar Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi dalam sambutannya sebelum pentas.

Menurut Hendi, panggilan akrab walikota, pagelaran ini juga menjadi acara pembuka dari program Semarang Great Sale (SemarGres) yang dilaksanakan mulai 28 Juni hingga 28 Juli 2019.

“Dengan konsep berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kami harap rangkaian perayaan HUT kota Semarang dapat meningkatkan minat wisatawan untuk berkunjung ke kota Semarang. Terlebih dalam bulan Juli mendatang akan banyak sekali event bertaraf nasional hingga internasional yang digelar di kota Semarang, mulai APEKSI, Semarang Night Carnival dan pawai budaya, Kejuaraan MXGP of Asia 2019, hingga Asean School Games. Sehingga ini akan menjadi sebuah momentum yang baik untuk semakin banyak menarik kunjungan wisatawan ke Kota Semarang,” tambahnya.

Selama kurang lebih satu setengah jam, Punakawan The Peace Maker yang dalam tradisi dikenal dengan Punakawan Sungging, menceritakan tentang liku-liku cinta antara Abimanyu dan Siti Sendari yang dibumbui dengan canda dan romantika.

Singkat cerita, seorang Resi bernama Begawan Jolo Watoro mempunyai anak pungut, seorang gadis bernama Endang Nirasmara. Keelokan wajahnya mengundang banyak pelamar datang untuk mempersuntingnya. Nirasmara kemudian mengumumkan sebuah sayembara untuk mencari pasangan hidup.

Datanglah para pelamar dari seluruh penjuru negeri, bahkan para konglomerat, saudagar dari Tionghoa dan pedagang dari Arab yang awalnya akan melakukan bisnis di SemarGress (Semarang Great Sale) justru ikut melamar Endang Nirasmara.

Prabu Bolodewo, Raja Mandura, datang melamar untuk Pangeran Lesmono, Putera Mahkota Astina. Para Punakawan, Gareng, Petruk dan Bagong juga datang melamar, mereka diutus oleh Semar melamar Nirasmara untuk dijodohkan dengan Joko Panandhang, anak pungut Semar.

Nirasmara kemudian mengumumkan syarat, siapapun boleh meminangnya asalkan bisa menghadirkan Pandawa, Kresno, dan Bolodewo lengkap dengan pusakanya.

Prabu Bolodewo segera pergi ke Amarta, di sana ia minta kepada Pandawa dan Kresno untuk membantunya meminjamkan pusaka dan hadir ketika Punakawan melapor ke Semar mengenai syarat yang diminta Nirasmara. Semar lalu memanggil Wisanggeni untuk mencari solusi. Wisanggeni kemudian menyulap para Punakawan, Togog dan Mbilung menyamar sebagai Pandawa, Kresno dan Bolodewo.

Kelucuan, kekonyolan, kekikukan pasti terjadi ketika para Punakawan itu memerankan tokoh Pandawa, Kresno dan Bolodewo. Wajah dan busana sudah berubah, tetapi perilaku dan mentalitas tidak berubah. Mbilung yang berwajah hitam dan penuh bisul memerankan Puntadewa, Togog dengan mulutnya yang lebar menjadi Werkudara, Petruk menjadi Bolodewo dan Bagong memerankan Arjuna.

Kisah asmara Joko Panandang dan Endang Nirasmara yang tidak lain adalah Abimanyu dan istrinya Siti Sendari, serta kelucuan para Punakawan dalam membawakan misi kedamaian, inilah yang menggerakkan alur sehingga cerita mengalir lancar dan segar.

Pentas wayang guyon diakhiri dengan pesta ratusan kembang api yang menerangi langit Kota Semarang.

“Kerja sama antara Bakti Budaya Djarum Foundation dengan Pemerintah Kota Semarang, diwujudkan dengan pembangunan Taman Indonesia Kaya sebagai bentuk komitmen dalam memperkenalkan dan melestarikan kebudayaan Indonesia khususnya seni pertunjukan kepada generasi muda,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *