Teng-tengan, Tradisi Unik Ramadan di Kampung Perbalan

SEMARANG (Asatu.id) – Teng-tengan, mainan berupa lampion prisma yang diberi lilin dan menampilkan bayangan “siluet” dengan berbagai bentuk gambar, menjadi salah satu kerajinan unik serta tradisi yang terus dipertahankan masyarakat Purwosari Perbalan, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, saat memasuki bulan Ramadan.

Teng-tengan dahulunya lebih di kenal dengan nama Dian Kurung dan di buat pada tahun 1942, dan hingga saat ini kerajinan yang sudah mendarah daging menjadi tradisi warga perbalan Kota Semarang ini, masih terus di lestarikan.

“Sudah turun temurun, saya membuat kerajinan teng-tengan ini, dulu itu bapak saya, dan buyut-buyut saya, dan saat ini saya yang meneruskan tradisi yang tetap harus di pertahankan, karena di Kota Semarang satu-satunya pengrajin teng-tengan saat bulan Ramadan ya cuma disini (Purwosari Perbalan, Kota Semarang),” Ungkap Junarso, salah seorang pengrajin teng-tengan saat ditemui Asatu.id, Minggu (12/5).

Lebih lanjut Junarso mengatakan, setiap harinya dengan dibantu dengan seorang rekannya, ia bisa membuat kurang lebih 20 teng-tengan. Dulu pada awal mulanya teng-tengan tidak diperjualbelikan karena hanya difungsikan sebagai penerangan. Namun dalam perkembangannya kini teng-tengan menjadi kerajinan yang dipasarkan untuk mendapatkan penghasilan. Lampion yang terbuat dari kertas aneka warna ini mampu mendatangkan rezeki bagi Junarso.

“Satunya itu harganya Rp 15.000, saya biasa jual ya keliling kampung mas, kadang juga ada pesanan skala besar dari luar kota, seperti Surabaya, Jogja, dan Bandung,” ungkapnya.

Sementara itu, Seseupuh Warga Purwosari Perbalan, Tunut Sofwani mengatakan bahwa lampion pada awalnya bernama Dian Kurung ini dibuat pada 1942. Nama Dian Kurung diambil dari kata Dian yang berarti lampu, dan Kurung berarti kurungan. Dian Kurung awalnya dulu berbentuk segi empat, berbeda dengan lampion sekarang yang berbentuk prisma persegi delapan.

Menurutnya saat itu, Kampung Perbalan masih berupa rawa dan belum teraliri listrik, kemudian seorang yang dikenal dengan Mbah Saman mulai membuat Teng-Tengan yang digunakan untuk penerangan.

“Dulu itu, saat bulan Ramadan disini itu sangat minim penerangan, sedangkan jalan menuju mushola itu gelap, akhirnya warga berinisiatif membuta sebuah Dian Kurung yang berarti Dian itu Lampu, Kurung itu kurungan, jadi lampu yang dikurung, sebagai alat untuk penerangan menuju masjid atau mushola,” ungkapnya.

Dian Kurung atau teng-tengan digunakan sebagai penerangan dengan berbagai bentuk, ada yang bisa ditempel di dinding dan ada bisa dibawa untuk penerangan di jalan. dan akan semakin ramai saat memasuki bulan Ramadan, yakni umumnya warga menggunakannya untuk pergi ke masjid.

“Karena kemajuan zaman, Dian Kurung digemari oleh anak-anak dan warga, sehingga di sini dalam pembuatannya meningkat terutama saat bulan puasa. Dulu awal-awal ditempel di tembok sekarang sudah ada yang bisa berputar,” imbuhnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *