Pameran Silap : Living Room Act, Artikulasi Seni dan Gerakan Lingkungan 

Suasana pameran tunggal Praditya Wibby bertajuk Silap: Living Room Act di galeri Hysteria Jl Stonen No.29 Sampangan Semarang, Senin (29/4).

SEMARANG (Asatu.id) – Arts and movement atau seni dan gerakan keduanya memiliki korelasi yang sangat erat dalam merespon atau mengkritisi isu-isu sosial terutama persoalan lingkungan.

Menjadi seorang pekerja seni atau seniman memang bukan pekerjaan mudah, acapkali harus menuangkan ide dan gagasannya menjadi sebuah bentuk karya, seorang seniman juga harus dapat mengartikulasikan pesan karyanya itu kepada penikmat seni. Bahkan pesan tersebut terkadang lebih penting dari produk seni itu sendiri.

Seperti perupa kelahiran Kudus, Praditya Wibby yang menuangkan persinggungannya dengan aktivitas seni dan gerakan lingkungan dalam pameran tunggalnya bertajuk “Silap: Living Room Act” di Hysteria Jl. Stonen No. 29 Semarang, Senin (29/4).

Bakat berkeseniannya memang sudah melekat dalam dirinya sejak sedari kecil, namun mulai mendalaminya sebagai profesi dari tahun 2008 ketika ia menempuh studi seni di Kota Yogyakarta. Hingga pada akhirnya ia memilih fokus di jalan seni dan pergerakan lingkungan.

Perupa yang akrab disapa Wibby ini menceritakan bahwasanya menjadi seorang pekerja seni itu harus lebih peka dengan masalah-masalah sosial, harus bersikap kritis, sadar sosial, dan tanggap lingkungan. Selain itu juga harus berpikir terbuka dengan realitas yang sedang terjadi di negeri ini.

“Melalui medium seni adalah sarana untuk dapat mengabarkan atau berkampanye dalam merespon isu lingkungan. Tentunya dengan pendekatan dan terjun langsung ke masyarakat dan mengkritisi kebijakan yang mengganggu kenyamanan ruang hidup bermasyarakat,” tandasnya.

Misalnya melalui karyanya berjudul “Merdu Tembang Tambang” ia menceritakan keresahan yang terjadi terhadap pembangunan tak ramah lingkungan seperti persoalan tambang batu bara yang berdampak kerusakan lingkungan sehingga merenggut ruang hidup masyarakat sekitar.

Selain itu ada pula karya berjudul “Reinkarnasi” secara simbolis menggambarkan sebuah harapan yang mendambakan dunia yang lebih baik di tengah banyaknya isu konflik seputar agraria di Indonesia.

“Dalam pameran ini saya ingin mengajak orang untuk lebih peduli dan mengkritisi terhadap isu lingkungan karena isu ini belum begitu ditanggapi padahal ini persoalan serius menyangkut masa depan yang lebih baik untuk dunia yang lebih baik. Selain itu juga harus dapat diterapkan pula dalam tindakan nyata di setiap laku kehidupan ,” pungkasnya.

Pameran seni rupa ini merupakan sebuah pameran tunggal yang kali pertama digelarnya di Kota Semarang. Menurutnya iklim berkesenian di Kota Semarang ini cukup menantang dan memiliki cara sendiri dalam mengapresiasi sebuah karya. Karena yang terpenting bukan perkara kuantitas namun lebih ke kualitasnya.

“Di setiap tempat pasti mempunyai penikmat seni yang bermacam-macam dengan karakternya masing-masing. Cara mengapresiasinya juga berbeda-beda. Yang penting bisa membuka ruang diskusi antara perupa dan penikmat seni sehingga dapat tercipta pemikiran-pemikiran baru,” ujarnya.

Sebelumnya Wibby mengaku sudah pernah berpameran tunggal di Kota Malang. Selain itu juga aktif mengikuti pameran kolektif di Jakarta, Yogyakarta, dan Salatiga. Bahkan beberapa karyanya pernah dipamerkan di Thailand, Australia, dan Jerman.

Sejumlah 20 karya yang dikuratori oleh Aristya Kuver ini telah dipamerkan sejak Sabtu (27/4) lalu. Meski hanya berlangsung selama tiga hari dan terbilang singkat, namun beragam karya yang digoreskan dengan media cat air di atas kertas ini sarat akan penguatan pesan yang hendak disampaikan melalui setting instalasi ruang tamu ditambah hiasan tanaman kaktus. Yakni agar bagaimana kita tetap dapat memelihara harapan untuk bertumbuh di setiap ruang-ruang pertemuan. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *