Pesta Demokrasi, Komunitas Sahabat Difabel Semarang Gunakan Hak Suara

SEMARANG (Asatu.id) – Semua rakyat Indonesia dari segala penjuru tanpa terkecuali, berbondong-bondong menuju Tempat Pemilihan Suara (TPS) terdekat guna memenuhi hak kewajiban mereka dalam Pemilu 2019.

Begitu pula dengan teman-teman difabel dari Komunitas Sahabat Difabel ini, mereka bersama keluarga bersedia ikut mengantri seperti para pemilih lainnya tanpa ragu.

Teman-teman difabel dari Komunitas Sahabat Difabel juga punya banyak cerita, ketika berada di TPS ataupun mereka yang didatangi langsung oleh petugas dengan menggunakan sistem jemput bola.

Terlebih lagi pada Pemilu 2019 ini Noviana Dibyantari selaku founder sekaligus Inisiator dari Komunitas Sahabat Difabel, ikut mengawal berlangsungnya pesta demokrasi tersebut.

Sehingga dari H-7 Noviana terus mencari dan berupaya agar teman-teman difabel belum pernah mencoblos, bisa ikut berpartisipasi menentukan hak suara mereka dalam pemilu tahun ini.

Bahkan ketika hari pemilu tiba, Noviana tetap berkoordinasi dengan para teman-teman difabel jika ada kendala yang dihadapi mereka ketika berada di TPS.

Seperti ketika menerima laporan dari orang tua Sofie salah seorang teman difabel grahiita yang tidak memiliki surat C6, sehingga Noviana pun langsung menuju ke lokasi TPS 05 Ngabangan untuk mengupayakan agar tetap bisa memilih di TPS tersebut.

Selain itu Noviana juga menuturkan, dirinya telah mendampingi seorang difabel rungu yang tidak memiliki keluarga, sehingga bisa mendapatkan surat C6 yang disertai KTP hingga membantunya masuk ke bilik pemungutan suara.

“Ada juga tempat TPS 13 yang belum akses bagi pengguna kursi roda, sehingga teman-teman difabel tersebut harus dibantu oleh para petugas yang berada dilokasi,” ujarnya.

Kisah teman-teman difabel yang ikut mencoblos di TPS, tentu berbeda dengan kisah dari rekan-rekan yang mencoblos dengan dihampiri langsung oleh petugas menggunakan sistem jemput bola.

Bahkan ini menjadi pengalaman pertama bagi sebagian dari kaum difabel yang di tahun-tahun sebelumnya tidak dapat memilih dikarenakan tempat TPS yang belum aksesbilitas dan kurangnya kesadaran dari petugas terhadap para difabel seperti yang dialami oleh Puput dan Zulfikhar.

Kakak beradik difabel daksa berkursi roda ini, baru pertama kalinya mengikuti pemilihan suara dengan menggunakan sistem jemput bola.

Mereka menuturkan, sangat senang karena akhirnya bisa ikut memberikan suara untuk Indonesia.

“Kami berharap seluruh rakyat Indonesia, terutama para difabel apapun ragam disabilitasnya harus tetap diberikan hak suara untuk memilih dan jangan terabaikan oleh sekitar,” katanya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *