Sekda: Kiblat Kita Gatotkaca, Bukan Superman

Sekda: Kiblat Kita Gatotkaca, Bukan SupermanSEMARANG (Asatu.id) – Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sri Puryono, kembali mengingatkan pentingnya konsep Trisakti Bung Karno untuk diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga bisa menjadi filter terhadap gempuran budaya asing yang tidak sesuai dengan karakter dan jatidiri bangsa.

Konsep Trisakti yang digagas oleh Proklamator sekaligus Presiden pertama Indonesia Ir Soekarno pada 1963 tersebut mencakup tiga poin, yakni berdaulat di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi, serta berkepribadian di bidang budaya.

“Yang nomor tiga (berkepribadian di bidang budaya) sekarang ini sering dilupakan. Padahal roh bangsa ini tergantung budaya kita. Kalau luntur dan hilang, hanguslah budaya kita,” kata Sri Puryono saat menjadi pembicara Sarasehan Budaya dan Gelar Seni Selasa Legen ke-92 bertema “Konservasi Budaya”, di Joglo Kampung Budaya Universitas Negeri Semarang (Unnes), Senin (15/4) malam.

Menurut dia, berkepribadian di bidang budaya, mengandung arti pelaksanaan pembangunan harus bernafaskan kebudayaan dan kearifan lokal. Potensi dan seni budaya bangsa Indonesia yang terdiri atas 652 bahasa daerah dan 17 ribu pulau mesti terus dijaga dan dilestarikan.

Ditambahkan, Pemprov Jateng terus berupaya menjaga kepribadian di bidang budaya, salah satunya melalui Peraturan Gubernur (Pergub) Jateng Nomor 55 Tahun 2014. Pergub itu merupakan aturan perubahan atas Pergub No 57 Tahun 2013 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 9 Tahun 2013 tentang Bahasa, Sastra dan Aksara Jawa.

“Implementasinya, setiap tanggal 15 kita (ASN Pemprov Jateng) mengenakan busana adat Jawa. Maka, saat Pak Ganjar tadi pagi ke Brebes, beliau ya pakai busana Jawa. Selain itu, tiap hari Kamis dalam berkomunikasi sehari-hari menggunakan Bahasa Jawa,” ujar Ketua Umum Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Provinsi Jateng ini.

Sekda menjelaskan, jurus ampuh melestarikan atau konservasi budaya dengan menumbuhkan rasa memiliki serta menanamkan gerakan cinta budaya pada generasi muda. Ia lantas mencontohkan eksistensi perkumpulan kesenian tradisional Wayang Orang “Ngesti Pandawa” yang selalu konsisten tampil di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang.

“Ya harus diuripi (dihidupi), baru diruwat (dipelihara). Seperti Ngesti Pandowo, hanya delapan orang penontonnya ya tetap main. Karena kepuasaan mereka bisa tampil prima. Jadi, kita tidak boleh ketinggalan atau terlena di tengah peradaban dunia. Ibaratnya, kiblat kita itu Gatotkaca, bukan Superman,” pungkas Sri Puryono.

Sebagai informasi, Sarasehan Budaya dan Gelar Seni Selasa Legen dilakukan setiap selapan (35 hari sekali) dalam penanggalan Jawa. Pasalnya, hari lahir universitas yang dulu bernama IKIP Semarang pada 30 Maret 1965 silam ini memiliki weton Selasa Legi dalam penanggalan Jawa. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *