Desa Kesambi, Desa Buruh Migran yang Ramah Anak

Desa Kesambi, Desa Buruh Migran yang Ramah AnakSEMARANG (Asatu.id) – Warga Desa Kesambi, Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung, hampir 30 persen dari seluruh jumlah keluarga adalah buruh migran. Mereka bekerja di Taiwan, Malaysia, maupun negara lain karena ingin lepas dari jeratan kemiskinan di desanya.

Dengan penduduk 3.233 jiwa (1.681 laki-laki dan 1.551 perempuan) yang tergabung dalam 928 Keluarga mayoritas berprofesi sebagai petani. Namun luas lahan mereka tidak sebanding dengan tanggungan keluarga sehingga menjadi buruh migran adalah pekerjaan yang dianggap dapat mengentaskan mereka dari kemiskinan.

“Kami mayoritas buruh tani. Jadi menjadi TKI (dan TKW) sangat menolong. Mayoritas yang bekerja di luar negeri adalah perempuan, sebab berangkat ke Taiwan maupun Malaysia gratis. Sementara yang laki-laki harus bayar Rp 40 juta untuk jadi TKI di Taiwan dan Rp 20 juta untuk ke Malaysia,” kata Kepala Desa Kesambi Suyanto.

Dalam perkembangannya, kini dari 576 anak yang ada di desa itu, 235 adalah buruh migran. Masalah sosial pun muncul. Anak yang diasuh oleh keluarga yang tidak lengkap (ayah-ibu) menjadi rentan terhadap masalah sosial.

Secara ekonomi, warga Desa Kesambi memang meningkat. Rumah-rumah menjadi lebih baik. Berdinding tembok. Namun masalah lain muncul, yakni pergaulan remaja yang harus perlu perhatian.

Kesadaran itu muncul pada tahun 2013. Warga sadar arti penting cara mendidik anak. Mereka meminta Lembaga Perlindungan Anak untuk memberi masukan tentang cara mendidik anak.

“Kami semula mengira membentak anak itu tindakan yang benar. Namun setelah mendapat arahan cara mendidik anak, ternyata itu kurang tepat. Ada cara lain yang lebih bagus,” kata Ahmad Habib In’ami, salah satu warga yang menjadi motor mengasuh anak buruh migran.

Desa Kesambi, Desa Buruh Migran yang Ramah AnakAhmad mengajak seluruh warga desa untuk makin peduli terhadap masa depan anak-anak di desa itu.

“Sebab mereka semua adalah anak kami. Oleh sebab itu kami harus bertanggung jawab terhadap masa depan mereka,” tuturnya.

Di sisi lain Forum Anak Desa pun terbentuk. Ada sekitar 50 anak yang menjadi anggota. Mereka menyuarakan aspirasi dari sudut pandang anak yang ditampung dapat Musyawarah Rencana Pengembangan Desa.

“Kami bisa usul, misalnya lapangan sepakbola diperbaiki. Jangan ada penggembalaan ternak maupun belajar mengendarai mobil di lapangan,” kata Reza R Falevy, salah satu penggerak Forum Anak Desa.

Oleh karena itu ketika ada kasus besar yang menyita perhatian seluruh warga, ketika ada siswi SMP yang hamil di luar nikah, maka seluruh warga dan anak desa itu bersatu padu melindungi.

“Siswi itu kami beri semangat agar tetap sekolah agar anaknya nanti tetap memiliki sosok ibu yang punya masa depan lebih baik,” kata Iva Alfiyatu Mahmudah, Ketua Forum Anak Desa yang duduk di kelas XII SMK di Kecamatan Bandung.

Suyanto, Kepala Desa Kesambi menjelaskan, kesadaran warga untuk memperhatikan nasib anak-anak makin kuat.

“Karena banyak yang menjadi buruh migran, anak-anak itu juga menjadi anak kami semua warga desa. Kami saling peduli,” katanya.

Nasib siswi yang hamil pun akhirnya tetap sekolah. Ia mampu menyusui bayinya dengan ASI hingga usia empat bulan. Namun karena ASI-nya berhenti, maka asupan gizi diganti dengan susu formula.

“Siswi itu kini mondok di pesantren sambil sekolah. Ia juga tetap peduli terhadap anaknya yang diasuh oleh neneknya. Bayi itu kini dibawah asuhan nenek buyutnya,” kata Ahmad Habib.

Desa Kesambi, Desa Buruh Migran yang Ramah AnakSementara Kepala Desa Suyanto menambahkan, kepedulian pemerintah desa terhadap perkembangan anak diwujudkan dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp 12 juta per tahun. Dana itu untuk berbagai kegiatan mulai dari berlatih kesenian jaranan (kuda lumping), musik hadrah, pencak silat, dan beberapa kegiatan lainnya.

“Kami tahu kepedulian kepada anak itu pasti akan terlihat hasilnya pada kurun waktu yang lama. Namun jelas sangat berguna untuk 20 tahun ke depan,” ujarnya.

Kucuran anggaran untuk kepedulian terhadap anak baru ada ada petunjuk jelas untuk anggaran tahun 2019. Tahun-tahun sebelumnya pemerintah desa harus pandai menyisihkan anggaran itu untuk kegiatan anak desa.

Desa Kesambi yang ramah anak itu kini makin yakin menatap dan menyongsong masa depan. Anak-anak buruh migran telah memiliki orangtua lengkap, yakni seluruh warga desa.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *