Sonya Helen: Wartawan Harus Pertimbangkan Dampak Lanjutan Pemberitaan Kasus Anak

SEMARANG (Asatu.id) – Wartawan senior harian Kompas Sonya Helen Sinombor menjelaskan, wartawan harus bertanggung jawab terhadap berita yang dihasilkan.

Hal tersebut dikemukakannya saat menghadiri kegiatan Sosialisasi dan Edukasi disertai site visit ke ULT-PSAI Kabupaten Tulungagung dan desa ramah anak bagi 20 jurnalis dari Jawa Timur dan Jawa Tengah yang digelar oleh JADE Sanus Indonesia yang menaungi kelompok Jurnalis Sahabat Anak (JSA), didukung Setara, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Tulungagung dan Unicef Indonesia pada Senin-Selasa (8-9/4) lalu.

“Dalam memberitakan anak, misalnya, kita harus mempertimbangkan dampak lanjutan dari berita yang kita tulis terhadap anak tersebut. Kita bisa membayangkan, bila kasus itu menimpa keluarga kita seperti apa dampaknya bila berita itu dimuat dengan vulgar,” tuturnya.

Sementara itu para aktivis peduli anak sering menganggap wartawan menjadi musuh bila ada kasus yang korban maupun pelakunya adalah anak.

“Nama memang disamarkan, tetapi alamat ditulis jelas. Bahkan nama dan alamat disamarkan, tetapi fotonya dipajang jelas. Mereka belum sadar bawah berita itu justru tidak melindungi anak,” kata Bintang Alhuda, aktivis Setara.

Fotografer Jerry Adiguna menambahkan, sebenarnya ada rambu-rambu yang telah ditetapkan dalam Kode Etik Jurnalistik maupun rambu-rambu yang dibuat oleh Unicef dalam pemuatan foto anak.

Bahkan KPPPA (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) membuat MoU dengan Dewan Pers tahun 2019 ini yang berisikan pemberitaan ramah anak. Media massa harus profesional dalam perlindungan perempuan dan anak.

Di sisi lain, Kepala Unicef Jawa – Bali Arie Rukmantara menjelaskan, karya jurnalis dalam memberitakan anak untuk meraih masa depan yang lebih baik patut mendapat penghargaan.

“Jurnalis yang memberitakan kisah anak putus sekolah yang sudah sempat menjadi penjual bakso di Jakarta, kemudian mau kembali ke kampungnya di Kabupaten Brebes dan sekolah karena ada gerakan Ayo Kembali Sekolah, itu berita yang bagus dan patut dihargai,” katannya.

Ia menambahkan, Uincef hanya membantu ikut terlibat memperhatikan nasib anak di suatu negara.  “Bila di Indonesia nasib anak sudah baik, maka kami akan bergerak di negara lain yang perlu dibantu,” ujarnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *