Gus Yasin Beri Hadiah Santri Cilacap yang Hafal Alquran

CILACAP (Asatu.id) – Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen menyerahkan hadiah bagi santri yang hafal Alquran dan sudah diwisuda masing-masing Rp 1 juta. Hadiah itu diberikan Gus Yasin di sela tabligh akbar dan gema selawat dalam rangka Haul Sulthonul ‘Ilmi Habib Salim As Satiry, Haul KH Ahmad Sudiyat, KH Amyrudin, Simbah H Dimyati dan Haflah Akhirussanah Ponpes Putra Putri Roudlotul Jinan, Gentasari, Kroya, Cilacap, Minggu (14/4) malam.

Pemberian hadiah tersebut merupakan bagian pemenuhan dari janji kampanyenya pada Pilkada 2018 lalu, di mana pasangan Ganjar-Yasin akan memperhatikan pendidikan keagamaan, Pondok Pesantren (Ponpes), insentif guru ngaji dan janji lainnya jika terpilih.

“Karena ada dua santri yang diwisuda hafal Alquran, kita berikan bisyaroh masing-masing Rp 1 juta,” kata Gus Yasin, sapaan akrab Taj Yasin Maimoen, yang pada kesempatan itu juga memberikan santunan kepada santri yatim piatu serta duafa.

Setelah hafal Alquran, Gus Yasin meminta santri jangan berhenti menghafal, tetapi diteruskan dengan memahami isi Alquran, serta menyandingkan ayat-ayat Alquran dengan kejadian-kejadian di dunia sebagai bahan berdakwah dan memberikan pemahaman kepada masyarakat.

Kepada pengasuh Ponpes Roudlotul Jinan, KH Ahmad Daelami maupun kepada para wali santri, Gus Yasin mengucapkan terima kasih karena telah membantu mendidik masyarakat di ponpes.

“Menghadapi murid yang tidak paham, guru harus bersabar. Sebagai murid juga jangan sampai putus asa. Karena, putus asa tidak membawa kemajuan,” pesan Gus Yasin.

Pada kesempatan itu, Gus Yasin juga menceritakan kisah kesabaran guru dan murid, yakni kisah tentang Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya Al Buwaithi, murid Imam Syafi’i.

Dalam kisah hidupnya, Al Buwaithi saat belajar kepada Imam Syafi’i merupakan murid yang tidak cerdas akan tetapi jujur. Hal itu terjadi ketika Imam Syafi’i mengajar, Buwaithi mengakui tidak paham dengan apa yang diajarkan. Imam Syafi’i pun harus mengulang sampai 40 kali.

Ketika pelajaran diulang ke-41 kalinya, Buwaithi lari terbirit-birit pulang kerumahnya. Ia takut jika ditanya oleh Imam Syafi’i apakah sudah paham atau belum.

Imam Syafi’i pun mengejar Buwaithi kerumahnya. Buwaithi pun mengakui, jika saat itu masih belum paham juga. Sampai akhirnya, Imam Syafi’i mengulang kembali hingga Buwaithi paham. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *