Banyak Masalah Sosial, Kultur Masyarakat Permukiman Kumuh Harus Diubah

SEMARANG (Asatu.id) – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan, fokus penghapusan kawasan permukiman kumuh tidak boleh hanya mengedepankan faktor infrastruktur saja. Lebih dari itu, aspek kultural dan sosial masyarakat juga harus diperhatikan.

Hal itu disampaikan Ganjar pada acara Workshop Pemantauan Kawasan Pemukiman Kumuh di Hotel Santika Semarang, Senin (25/3). Ikut hadir dalam kegiatan itu Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperakim) Provinsi Jawa Tengah, Budi Wibowo.

“Mohon maaf, di lokasi kawasan permukiman kumuh itu banyak ditemui permasalahan sosial seperti kemiskinan, pengangguran, narkotika,  kriminalitas. Ini harus diperhatikan, jadi jangan hanya merubah tampilannya saja, namun kultural masyarakat harus juga diubah,” kata Ganjar. acara Workshop Pemantauan Kawasan Pemukiman Kumuh di Hotel Santika Semarang, Senin (25/3).

Menurut Ganjar, banyak masalah yang timbul di kawasan permukiman kumuh. Dia mengaku sudah beberapa kali mengunjungi sejumlah kawasan kumuh dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kehidupan sosial masyarakatnya.

“Saya menemukan ada anak kecil sudah mengenal narkotika, ada yang ngelem, seks bebas dan lainnya. Maka penataan kawasan permukiman kumuh ini penting selain demi keindahan juga untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Kesejahteraan masyarakat, lanjut Politisi PDI Perjuangan tersebut, salah satunya diukur dari ada tidaknya kawasan kumuh. Maka di negara-negara maju, aspek ini benar-benar diperhatikan.

“Hampir tidak ada di negara maju itu kawasan kumuh. Di negara-negara maju itu pasti lingkungannya bersih, tertata rapi dan aman. Mari kita mewujudkan hal itu secara pelan namun pasti, karena menyelesaikan masalah ini tidak bisa dilakukan secara instan,” pungkasnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *