Labschool Unnes, Pelopor Gerakan Sekolah Menyenangkan

Genap Usia 10 Tahun, Labschool Unnes Gelar Open House

Caption : Kegiatan belajar para Siswa SD Labschool Unnes, dibuat dengan sangat menyenangkan

SEMARANG (Asatu.id) – Genap di usia 10 tahun, Labschool Unnes tetap berkomitmen membentuk generasi yang memliki karakter kuat, serta membentuk siswa siswi berprestasi di segala bidang.

Dalam kiprahnya, banyak prestasi yang diraih, sepertihalnya dibidang olah raga. Labschool unnes memfasilitasi seluruh siswa maupun siswi untuk mengembangkan minat dan bakat terhadap olahraga tertentu.

Sehingga berbagai prestasi pun sudah diraih, seperti prestasi di kejuaraan Ritmik tingkat nasional, olahraga memanah di tingkat Jawa Tengah, Bola Voley di tingkat Jawa Tengah, dan Taekwondo yang mengkoleksi banyak mendali di berbagai kejuaraan baik di Jawa Tengah maupun Kota Semarang.

“Dibidang olahraga kami fasilitas dengan optimal, berbagai prestasi sudah ditempuh dibidang olahraga seperti ritmik kita juara di kota semarang, panahan tingkat Jateng, voley mewakili kota semarang di tingkat Provinsi, termasuk taekwondo yang memperoleh mendali” kata Kepala Pusat Laboratorium Sekolah Lab Unnes, Bambang Priyono.

Labshcool unnes juga menjadi satu-satunya sekolah yang menginisiasi Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di Kota Semarang. Dimana dalam metode pembelajarannya menggunakan metode sekolah belajar sambil bermain, atau bermain sambil belajar dengan tetap mengacu pada kurikulum nasional yang ada.

“Pembelajaran berbasis proyek, jadi mereka tidak hanya menerima pendidikan secara teori, tapi juga pendidikan secara praktek. Seperti membuat kipas angin, memanfaatkan barang bekas. Sehingga anak-anak dalam mengekspresikan pola geraknya betul-betul alami, akademik kita desain, kita buat regulasi atau aturan akademiknya di desain yang mengikat mereka,” ungkapnya.

Sementara untuk membentuk karakter yang kuat pada siswanya, Labschool Unnes memberikan pendidikan karakter kemandirian lebih tinggi daripada sekolah pada umumnya.

Kepala Sekolah SD Labschool Unnes Muhammad Mukhlas mengatakan, lulusan Labschool akan memiliki karakter kemandirian. Hal ini dikarenakan penerapan karakter kemandirian sudah diterapkan sejak dini dengan berbagai kegiatan atau pembelajaran yang memicu terbentuknya karakter tersebut.

“Dimana setiap pagi ada pendidikan karakter, kemudian ada penanaman karakter kebangsaan, berburu sampah, kemandirian. Dan ada juga morning meeting bisa digunakan untuk melakukan permainan tradisional dengan teman sebaya. Tujuannya apa? Untuk membentuk jiwa sosial dari anak tersebut,” ungkapnya.

Kegiatan belajar mengajar dalam kelas pun menjadi perhatian khusus, dimana setiap kelasnya hanya dibatasi untuk 20 siswa yang berlaku untuk SD, dan hanya 5 siswa berlaku untuk PAUD.

“Satu kelas hanya diisi hanya 20 siswa, dimana satu guru hanya mengampu 20 siswa jadi guru benar-benar tahu kondisi anak didik. Untuk TK/Paud kita maksimal satu kelas 5 siswa,” paparnya.

Apa itu Labschool Unnes?

Banyak yang mengartikan Labschool Unnes merupakan sekolah percobaan atau laboratorium sekolah yang dimiliki oleh Unversitas Negeri Semarang (Unnes). Lalu apakah anggapan itu tepat?

Sekretaris Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Profesi (LP3) Unnes Ngabiyanto mengatakan, Labschool Unnes merupakan lembaga pendidikan profesional, dimana didalamnya dipenuhi dengan tenaga professional baik guru maupun dalam hal administrasi.

“Lembaga pendidikan professional, dikelola guru professional, jadi bukan lembaga percobaan. Jadi ini sekolahnya buka sekolah percobaan, latihan ataupun eksperimen, jadi betul-betul dikelola secara professional,” katanya.

Menurut Ngabiyanto, konotasi Labschool merupakan konotasi untuk mengimplementasikan hasil riset dari dosen untuk diterapkan disekolah tersebut. Sehingga dari segi metode pembelajaran sudah memiliki jaminan berdasarkan riset pendidikan yang ada.

“Nah memang konotasi labschool nya itu, untuk mengimplementasikan hasil riset dari dosen PGSD, dosen PAUD, IKM dan Psikologi yang memiliki penilitian-penelitian yang mana nanti hasilnya diterapkan disini,” ungkapnya.

Disamping untuk penerapan riset, lanjut Ngabiyanto, juga digunakan untuk observasi, oleh mahasiswa untuk melihat perkembangan anak secara psikologis, dan dari segi implementasi metodologi pengajara.

“Jadi secara akademik, labschool itu di BackUp oleh suatu keilmuan yang dibelakangnya itu Unnes yang merupakan Unversitas pencetak guru. Sehingga landasan teori cukup kuat,” imbuhnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *