Ganjar Targetkan Tahun 2021 Jateng 100 Persen ODF 

WONOSOBO (Asatu.id) – Pemprov Jateng menargetkan, pada tahun 2021 seluruh wilayah di provinsi ini sudah 100 persen Open Defecation Free (ODF) atau masyarakatnya tidak buang air besar sembarangan. Upaya itu terus dilakukan dengan beragam gerakan yang mengedukasi dan melibatkan masyarakat.

Hal itu disampaikan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, saat menghadiri acara peresmian bantuan jambanisasi di Kabupaten Wonosobo, Minggu (3/3). Menurut Ganjar, percepatan tersebut penting karena ODF menjadi salah satu faktor pengurangan angka kemiskinan.

“Gerakan 100 persen ODF ini memang kami kebut sebagai langkah menekan angka kemiskinan dari subsektor yang terkecil yakni persoalan sanitasi. Kalau masyarakat tidak buang air besar sembarangan, maka mereka akan menjadi sehat dan tentunya lebih sejahtera,” kata Ganjar.

Ganjar menerangkan, sudah banyak penelitian yang menerangkan akibat perilaku buang air besar sembarangan menyebabkan masyarakat rentan diserang penyakit. Sejumlah penyakit berbahaya cukup banyak yang disebabkan dari virus yang bersumber dari sanitasi tidak sehat.

“Ada tipes, kolera, disentri, diare dan banyak penyakit lainnya. Bahkan ada penelitian bahwa penyebab orang di Indonesia masuk rumah sakit yang terbesar adalah dari virus akibat sanitasi ini. Kalau dikapitalisasi, kerugian negara akibat penyakit dari sanitasi buruk ini bisa mencapai triliunan rupiah,” terangnya.

Saat ini, lanjut Ganjar, di Jawa Tengah masih ada beberapa Kabupaten dan Kota yang belum 100 persen ODF. Untuk itu, pihaknya akan terus mendorong dengan menggandeng berbagai instansi terkait baik BUMN maupun swasta untuk gotong-royong menyelesaikan permasalahan tersebut.

“Sekarang adalah momentum yang baik, kita semua gotong-royong untuk menyelesaikan persoalan ini. Kalau dulu target 2019 bisa 100 persen ODF, namun belum tercapai, maka saya optimistis di tahun 2021 bisa tercapai,” tambahnya.

Tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur sanitasi sehat, proses sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat juga tidak kalah penting. Menurutnya, sampai saat ini masih banyak masyarakat yang pola pikirnya belum menyadari pentingnya sanitasi sehat.

“Ada lho masyarakat yang sebenarnya mampu membuat jamban, tapi lebih senang buang air besar di sungai. Ini kan soal perilaku dan pola pikir, jadi nanti sosialisasi akan kami gencarkan dengan menggandeng masyarakat, bisa PKK, Pramuka, LSM dan sebagainya,” tutupnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *