Tak Lulus SD, Warga Banjarnegara Ini Ciptakan EWS Longsor yang Canggih

Tak Lulus SD, Warga Banjarnegara Ini Ciptakan EWS Longsor yang CanggihSEMARANG (Asatu.id) – Sebuah alat Early Warning System (EWS) bencana longsor dipamerkan saat acara Rapat Koordinasi (Rakor) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng di Semarang, belum lama ini. 

Alat bernama Elwasi (Eling, Waspada lan Siaga) tersebut menarik perhatian peserta rapat yang dipimpin oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan Kepala BNPB, Letjen Doni Manardo.

Siapa sangka, alat hebat yang berguna untuk mendeteksi pergerakan tanah tersebut diciptakan oleh orang biasa saja. Jangankan sarjana, pencipta alat tersebut ternyata orang yang tidak lulus sekolah dasar.Dia adalah Sudarsono (45), warga Desa Kalimandi, Kecamatan Klampok, Banjarnegara.

Meski berpendidikan rendah, namun pria yang sehari-hari mengabdikan dirinya sebagai staf di BPBD Banjarnegara tersebut mampu menciptakan alat yang sangat bermanfaat bagi masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah rawan bencana longsor.

“Saya sehari-hari di BPBD Banjarnegara. Ide awal membuat alat ini karena keprihatinan saya, masih banyak daerah rawan longsor yang belum dipasang EWS,” kata Sudarsono mengawali obrolan.

Ia mengatakan mencermati EWS longsor yang terpasang di beberapa tempat. Dengan mengamati itu, ia berfikir bahwa dirinya mampu membuat alat serupa, dengan bahan baku yang lebih murah. “Sehingga dapat lebih bermanfat bagi masyarakat. Lalu pada 2017, saya mulai mencoba membuat alat ini,” terangnya.

Sudarsono mengatakan membuat alat itu hanya dengan mengandalkan insting dan otodidak. Berbekal kemampuannya memperbaiki alat-alat elektronik, akhirnya ia mampu menciptakan alat tersebut dengan biaya tidak lebih dari Rp 5 juta.

“Saya ndak punya Ijazah, SD saja tidak lulus. Namun dulu saya pernah mengabdi di rumah Pak Carik di desa, nah anaknya itu sekolah di jurusan elektronik. Saya sering diminta membantu memperbaiki berbagai peralatan elektronik, jadi sedikit-sedikit paham,” terangnya.

Berbekal pengalaman itu, dia membuka bengkel elektronik kecil-kecilan di rumahnya. Dari ilmu yang didapat otodidak, ia memahami dunia elektronik dan merasa yakin bisa membuat alat tersebut.

Pembuatan Elwasi sendiri, lanjut dia, dilakukan di rumahnya. Dengan peralatan sederhana yang ia punya, Sudarsono mampu menciptakan karya agung itu. “Ternyata tidak sulit, bahan bakunya juga bisa menggunakan yang ada di desa-desa saya, jadi harganya murah,” imbuhnya.

Meski sederhana, namun alat buatan Sudarsono tersebut mendapat apresiasi banyak pihak. Bahkan, di ajang lomba Kreativitas dan Inovasi Masyarakat (Kreanova) yang digelar Pemkab Banjarnegara, alat yang diciptakan Sudarsono itu berhasil menyabet juara satu.

“Setelah itu, saya semakin termotivasi untuk menyempurnakan alat ini. Sekarang saya sudah membuat lima alat, beberapa sudah dipasang di daerah rawan bencana. Ada yang di Banjarnegara, ada pula yang di Sukabumi,” katanya.

Elwasi sendiri, lanjut dia, dibuat dengan beberapa komponen. Di antaranya panel yang disambungkan dengan aki, kemudian di bagian atas ada panel tenaga surya sebagai sumber energi.

Di alat tersebut juga terdapat tali yang dipasang di tanah yang rawan longsor. Selain itu, ada lampu dan speaker sirene di bagian atas alat tersebut.

“Cara kerjanya, alat ini dipasang di daerah rawan dengan tali dibentangkan di tanah yang rawan longsor. Saat tanah bergerak, tali akan tertarik dan sirene akan berbunyi. Suara akan terdengar sekitar satu kilometer, sehingga kalau mendengar suara sirene, maka dipastikan ada pergerakan tanah dan masyarakat sekitar bisa langsung menyelamatkan diri,” paparnya.

Sudarsono mengatakan akan terus menyempurnakan alat ciptaannya tersebut. Apalagi, dengan dukungan dari BPBD, dirinya semakin semangat untuk menyempurnakan dan memperbanyak ala itu.

“Semoga bisa bermanfaat. Sebagai relawan di BPBD, saya hanya ingin mengajak masyarakat sadar bencana dan meminimalisir jumlah korban saat terjadi bencana,” tutupnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *