Pembuatan Batu Bata Dinilai Berkurang Saat Musim Hujan

Pembuatan Batu Bata Dinilai Berkurang Saat Musim HujanSEMARANG (Asatu.id) – Musim penghujan seperti sekarang ini, pembuatan batu bata dinilai berkurang. Hal itu dirasakan salah satu pengrajin batu bata, Nawawi (60). Dia mengatakan, pada musim penghujan seperti sekarang ini mengakibatkan pembuatan batu batanya menurun.

Di menjelaskan, jika musim kemarau seperti sebelum-sebelumnya pembuatan batu bata bisa mencapai 600 bata, sedangkan pada musim hujan hanya dapat membuat kisaran 400 bata.

“Kalau musim kemarau pengeringan dalam membuat batu bata lebih cepat, paling 10 hari sudah kering. Sementara jika musim hujan, pengeringan bisa mencapai 20 hari bahkan sebulan, apalagi jika berturut-turut hujan, terangnya.

Selain pembuatan batu bata berkurang, Nawawi juga mengeluhkan terkait dengan sepinya pembeli. Dijelaskan, ada sekitar 600 bata yang sudah jadi selama dua bulan belum terjual.

“Sedangakan 5000 bata sudah terjual namun belum diambil oleh pembeli,” ungkapnya.

Dia menduga sepinya pembeli karena pada musim hujan sulit untuk membangun rumah sehingga pembangunan rumah sementara waktu ditunda.

“Mungkin pembeli ada yang belum punya rezeki untuk membeli batu bata, sehingga pembangunan rumah ditunda dulu. Sedangkan 5000 batu bata yang sudah laku belum diambil. Pernah saya hubungi katanya santai dulu karena kalau ingin membangun rumah menunggu tidak hujan,” paparnya.

Walaupun penjualan batu bata sepi, tidak menyurutkan Nawawi untuk berhenti membuat batu bata. Dia bekerja  dengan sistem borongan kepada Karomah (70) pemilik usaha batu bata.

Pada sela-sela waktu longgar, kata dia, Nawawi menggunakan waktunya untuk mencangkul sawah di sekitar rumah setelah itu berlanjut berangkat membuat batu bata.

Sementara itu, pekerja lain Muhyar (56) mengatakan, bahan yang digunakan untuk membuat batu bata dari berambut dan tanah liat. Tanah liat itu, dibeli dari buangan tanah dari hasil dudukan yang sudah tidak terpakai.

Satu dam tanah liat yang ditawarkan dibeli Rp 250 ribu untuk membuat batu bata. Menurutnya, dulu pernah menggunakan tanah liat dari Kali Sasak, namun kemudian sudah tidak diperbolehkan.

“Kami tetap mempertahankan kualitas batu bata yang baik, tanah yang digunakan harus lembut agar batu bata kuat. Karena kalau berkerikil akan mudah patah, justru merugikan kami,” terangnya.

Sementaa itu, lanjut dia, pada musim hujan harga batu bata tetap stabil. Satu biji batu bata dijual Rp 600.

“Jika beli seribu bata maka tetap membayar Rp 600 ribu dengan diambil sendiri. Sedangkan kalau ingin diantar harga bata berbeda menjadi Rp 1600 perbiji. Belum ditambah dengan uang bensin,” imbuhnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *