Kurangi Risiko DBD, Masyarakat Perlu Diberdayakan

Kurangi Risiko DBD, Masyarakat Perlu DiberdayakanSEMARANG (Asatu.id) – Kepala Dinas Kesehatan Jateng, Yulianto Prabowo, menyarankan kepada masyarakat untuk berhati-hati dan memantau daerah rawan nyamuk selama musim hujan. Sebab merebaknya perkembangan nyamuk identik dengan berjangkitnya penyakit demam berdarah dengue (DBD).

“Nyamuk aedes aegypti yang menyebabkan demam berdarah berkembangnya di tempat penampungan air, di tandon, di got. Tempat seperti itu perlu di perhatikan,” ujar Yulianto saat menjadi salah satu narasumber acara “Wedangan” di Stasiun TVRI Jateng, Rabu (6/2) petang.

Diungkapkannya, musim hujan seperti ini populasi nyamuk sangat tinggi. Masyarakat perlu diberdayakan untuk mengurangi risiko demam berdarah dengue (DBD).

Pemberantasan jentik nyamuk, lanjut Yulianto perlu digencarkan, tidak hanya rumah saja namun tempat umum tempat ibadah perlu diperhatikan juga.

Anggota Komite Ahli DBD, dokter Nahwa Arkhaesi menjelaskan, penderita yang terpapar virus demam berdarah akan mengalami fase kritis selama 2×24 jam. Sepanjang kondisi ketahanan tubuh penderita masih baik dan telah melewati masa kritis, maka kondisinya akan normal.

“Ada juga ciri-ciri DBD salah satunya gejala demam tinggi tiba-tiba dan terus-menerus, dan jika panas dalam 3 hari tidak ada perubahan perlu untuk dilakukan cek darah,” katanya pada acara yang bertema “Waspada Demam Berdarah” itu.

Sementara Ketua Tim Penggerak (TP) Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kota Semarang, Tia Hendrar Prihadi mengatakan, lembaganya sudah mengadakan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk  (PSN). Gerakan ini sudah diimbau kepada masayarakat untuk dilakukan setiap Jumat.

“Bagaiman terhindar dari gigitan itu penting, namun lebih baiknya memberantas jentik penyebab DBD daripada menghindari, maka perlu waspada di tempat-tempat tertentu yang nyamuk sukai,” ucapnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *