Pertahankan Masakan Khas Rumahan, Waroeng D’Lodeh Tawarkan Resep Masakan Ibu Tempo Dulu

Grand Opening Waroeng D’Lodeh Bersama Anak Yatim Piatu

SEMARANG (Asatu.id) – Sukses menggratiskan setiap pengunjung yang datang di Waroeng D’Lodeh selama 30 hari, kali ini warung yang identik dengan masakan ibu tempo dulu itu mulai meresmikan pembukaan rumah makan yang terletak di Jalan Kyai Saleh, Semarang.

Gran Opening dilakukan dengan cara sederhana, yakni mendatangkan sekitar 100 anak panti asuhan dari empat yayasan untuk melakukan doa bersama.

Pemilik Rumah Makan D’Lodeh, Bambang Raya Saputra mengatakan, rumah makan D’Lodeh  resmi dibuka dan akan melayani pesanan dan pelanggan. Setelah sebelumnya, pihaknya selama sebulan penuh menggelar acara Icip-icip, yaitu pengunjung digratiskan menikmati menu di D’Lodeh.

“Kegiatan icip-icip ini kami tutup dengan doa bersama anak yatim dan pondok pesantren. Kami juga meminta masukan kepada calon pelanggan yang sudah melakukan icip-icip. Masukan terbanyak adalah soal pelayanan,” katanya, Selasa (5/2).

Warung D’Lodeh Sendiri. Lanjut Bambang akan mempertahankan menu makanan khas rumahan. Dirinya sengaja memilih masakan jawa agar pengunjung lebih akrab dengan menu yang tersedia.

“Kami menyediakan makanan khas rumahan dengan menu sederhana. Namun tempatnya kami kemas seperti restoran dengan ruang berpendingin dan kami juga menjaga kebersihan. Pengunjung boleh mengambil sendiri menu yang tersedia,” katanya.

Meski rumah makannya dikonsep modern dan dengan sajian lokal, harga yang ditawarkannya pun tak mahal. Satu porsi sayur lodeh dan sayur tahu tempe misalnya, dibanderol dengan harga Rp 10.000/porsi. Minumannya juga disajikan dengan harga yang murah.

“Harga yang kami tawarkan masih terjangkau kantong mahasiswa. Namun soal rasa, kami jamin tak kalah dengan rumah makan besar,” katanya

Eksekutif Muda dan Perkantoran

Bambang Raya Saputra yang juga Politisi Partai Hanura itu mengungkapkan, D’Lodeh menyasar pada segmen eksekutif muda dan pegawai kantaran yang ada di sekitar Jalan Kyai Saleh.

Apalagi dari pendataan manajemen D’Lodeh, setidaknya di sekitar wilayah itu ada sekitar 25 perkantoran dengan jumlah karyawan yang sangat banyak.

“Ada kurang lebih 25 perkantoran di sekitar Jalan Kyai Saleh. Dan ini merupakan peluang kita untuk menyajikan masakan rumahan yang saat ini semakin sulit untuk dicari. Disisilain kita juga menyediakan tempat yang nyaman,” katanya.

Menurutnya, meski mengandalkan menu rumahan seperti lodeh, brongkos, buntil, gudangan, dan beberapa masakan tradisonal lain, Bambang Raya yakin rumah makan yang dikelolanya bisa sukses di tengah maraknya bisnis kuliner di Kota Semarang.

“Kami memang memiliki keutamaan dibanding rumah makan lain di sekitar. Selain rasa, kami juga mengutamakan pelayanan dan kebersihan rumah makan,” imbuhnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *