Yunius Mujianto: IFC Wadah Berkarya bagi Para Desainer Muda Berbakat

SEMARANG (Asatu.id) – Pelantikan anggota baru Indonesian Fashion Chamber (IFC) telah dilaksanakan dalam rangkaian acara malam penutupan January Board Meeting 2019, di Gedung Galeri Industri Kreatif, PPI Kawasan Kota Lama Semarang, Selasa (29/1).

Dalam kegiatan tersebut digelar pula pagelaran peragaan busana Semarang Fashion Trend Show dari berbagai karya rancangan 13 desainer yang baru bergabung IFC.

Desainer baru tersebut, antara lain Novita DP, Agied Derta, Olivia Soesanto, Yunius Mujianto (Semarang), Erika Ardianto, Raegitazoro, Amelia Dianty, Emny Theen (Jakarta), Iema Joedawinata (Bandung), Dissa Indriyana, Rainah Badubah (Surabaya), Alfatir Muhammad, Noor Umer (Malang).

Salah satu desainer IFC asal Semarang yang baru saja dilantik Yunius Mujianto mengaku sangat senang bisa bergabung dalam IFC. Menurutnya, IFC merupakan wadah berkarya sekaligus membuka peluang baru bagi para desainer-desainer muda yang ingin mengembangkan bakatnya.

“Tahun ini kebetulan diadakan di Kota Semarang jadi ke depannya sudah pasti akan memberikan influence bagi para desainer dalam mengikuti perkembangan mode di Semarang. Untuk itu harapannya akan selalu rutin diadakan dan mendapat dukungan dari pemerintah,” ungkapnya.

Yunius yang beberapa karyanya terinspirasi dari desainer ternama Joko Sasongko dan Aji Notonegoro ini mengaku untuk melewati proses masuk IFC memang perlu persyaratan tertentu, seperti proses kurasi karya dan seleksi yang cukup ketat. Namun dirinya tetap optimis menjalani proses tersebut dengan tidak patah semangat.

“Proses penerimaan anggota baru IFC memang ada persyaratan tertentu karena ada kurasi dan seleksi dulu. Kalau karyanya memenuhi syarat dan layak akan diterima. Jadi bagi para desainer muda yang baru akan terjun ke dunia fashion meski belajar otodidak jangan patah semangat untuk terus berkarya,” pesannya.

Ia mengaku memulai terjun ke dunia mode ini sejak tahun 2011 berawal dari membongkar pakaian-pakaian lama menjadi model baru. Pada kesempatan ini pun ia memperagakan enam karya rancangannya dan satu karya untuk instalasi busana.

“Karya saya mengambil tema burung blekog. Di mana, fauna tersebut merupakan ciri khas Semarang. Dan juga memakai bahan motif batik yang berasal dari Jawa Tengah ditambah penambahan layer dengan warna pastel keemasan yang dikombinasikan payet kristal, sehingga ready to wear untuk gaul sehari-hari,” jelasnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *