Nonton Debat, Ini Penilaian Ganjar Soal Performa Calon

Nonton Debat, Ini Penilaian Ganjar Soal Performa CalonPEMALANG (Asatu.id) – Pulang dari roadshow ke Pekalongan, Brebes dan Banyumas, Gubernur Ganjar Pranowo menyempatkan diri untuk menyaksikan debat pertama Capres Cawapres melalui siaran televisi. Ganjar rela mampir ke sebuah kafe di Kabupaten Pemalang saat perjalanan pulang dari roadshow tersebut demi menyaksikan acara yang ditunggu masyarakat itu.

Usai acara debat, Ganjar pun punya penilaian soal performa pasangan calon dalam berdebat. Ganjar mengatakan jika performa Joko Widodo agak lebih berani dibanding debat lima tahun lalu.

“Pak Jokowi agak lebih berani ya sekarang, dengan colekan-colekan yang mencubit begitu,” ucapnya.

Sementara terkait penampilan Prabowo, Ganjar menerangkan jika dirinya memiliki impian cukup besar, ada konsepsi yang cukup besar dan dia mencoba untuk mendorong hal itu kepada publik agar dipahami.

“Maka kenapa saya berharap akan lebih baik data yang disampaikan dalam debat, sehingga semua akan terukur. Sebab kalau tidak, maka debat sifatnya akan sangat kualitatif dan akan dibantah dengan pernyataan kualitatif lagi, maka semuanya akan sulit untuk mencari bukti-bukti yang pernah terjadi sebagai sebuah ini keberhasilan, ini memungkinkan dan ini terukur apa tidak,” terangnya.

Terkait pertanyaan dari panelis, Ganjar menerangkan jika pertanyaan yang diajukan cukup bagus. Mekanisme debat yang hanya membacakan pertanyaan dari panelis menurut Ganjar tidak membuat ketegangan.

“Saya mengalami itu dalam debat Pilgub dimana panelis dihadirkan. Dengan hanya dibacakan pertanyaannya, ini membuat suasananya tidak terlalu tegang. Penontonnya kalau dilihat dari TV tadi ndak seru, tapi saya yakin di sananya pasti sangat seru,” ucapnya.

Ganjar juga membahas soal disebutnya Jawa Tengah dalam debat Capres Cawapres tersebut. Meskipun, hanya soal luasan daerah yang dipaparkan.

“Lumayan Jawa Tengah disebut dalam debat, meski hanya soal luasan daerah,” pungkasnya.

Debat Capres dan Cawapres sendiri di lakukan di Hotel Bidakara Jakarta. Ada enam panelis yang memberikan pertanyaan dalam debat tersebut, yakni Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo, Ketua Komisi Nasional hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Ahmad Taufan Damanik, Ahli Hukum Tata Negara, Bivitri Susanti.

Selain itu ada pula ahli hukum tata negara, Margarito Kamis, guru besar hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana dan Ketia Mahkamah Agung Republik Indonesia, Bagir Manan.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *