Eksistensi Radio di Era Digital

SEMARANG (Asatu.id) Pada zaman dulu siaran radio sangat diminati masyarakat, terutama siaran radio yang bersifat berita. Siaran radio berita menjadi sarana informasi untuk mengetahui berita terkini yang terjadi di lingkungan sekitar masyarakat bermukim.

Siaran radio juga berjasa dalam kemerdekaan Indonesia. Dengan adanya siaran radio, golongan muda saat itu tahu Jepang telah menyerah kepada sekutu.

Golongan muda pun mendesak kepada golongan tua, termasuk Soekarno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan.

Masyarakat tahu Indonesia telah merdeka melalui radio. Sejak itu, siaran radio berita sangat ditunggu-tunggu, dan wajib dimiliki setiap rumah.

Namun di era digital ini, siaran radio seolah tenggelam. Banyak media online yang bermunculan, sehingga mengalahkan eksistensi radio.

Bagaimana nasib radio saat ini ? Apakah masih dibutuhkan ?

Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan tersebut munculah gagasan Mata Kuliah Produksi Acara Radio, supaya generasi baru dapat melestarikan salah satu media yang sudah banyak diminati oleh masyarakat. Universitas Semarang salah satu kampus yang memiliki ajaran mata kuliah berkenaan dengan media radio.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (USM), Ayang Fitrianti mengatakan di era digital sekarang ini radio sedikit kehilangan tren. Masyarakat kini lebih memilih mencari informasi melalui media online dan televisi.

Lalu apa saja yang didapatkan selama mengikuti mata kuliah ini?

Awalnya mahasiswa dikenalkan terlebih dahulu tentang radio seperti : Jenis – jenis siaran radio, bentuk siaran radio, jenis radio, dan sebagainya. Setelah melalui tahap pengenalan tersebut mahasiswa dituntut untuk membuat program acara radio, tetapi dengan tampilan yang baru. Program acara radio yang dibuat haruslah seiring dengan perkembangan zaman, baik itu dari aspek konten radio hingga musik yang akan didengarkan ke pendengar.

Diharapkan dari mata kuliah Produksi Acara Radio ini dapat menumbuhkan minat dan mengasah bakat yang ada dalam diri generasi muda untuk tetap melestarikan media radio. “Jujur sih mata kuliah ini ngebantu aku banget buat mendalami tentang media, khususnya radio, apalagi emang dari dulu aku penasaran seperti apa ya rasanya menjadi penyiar radio,” ujar Ruth Angelica, Mahasiswa Produksi Acara Radio.

Semakin majunya pekembangan teknologi radio juga harus mengikuti arus ini. Siaran radio melalui media streaming online adalah metode yang tepat untuk memperkenalkan radio secara menyeluruh di telinga masyarakat, bahkan dapat dijangkau tanpa memerlukan satelit pemancar.

Radio Gen FM sejak meluncurkan aplikasi mobile streaming dapat memperoleh 135 ribu pendengar dari Jakarta dan Surabaya selamaenambulan (Sumber : Marketing.co.id,http://goo.gl/kIQZf2 ) hal ini membuktikan bahwa media baru inisangat efektif untuk mempertahankan eksistensi radio yang ada. Universitas Semarang juga memiliki stasiun radio sendiri, meskipun belum dapat diakses secara streaming radio ini menyuguhkan informasi yang sesuai dengan target pendengarnya. (Risa Indra Talenta, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Semarang)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *