Kampung ‘Seram’ Pancuran Berubah Menjadi Destinasi Wisata Harapan

Kampung 'Seram' Pancuran Berubah Menjadi Destinasi Wisata HarapanSEMARANG (Asatu.id) – Di Kota Salatiga, ada sebuah wilayah pedukuhan, namanya Dukuh Pancuran. Secara geografis ikut Kelurahan Kutowinangun Lor, Kecamatan Tingkir.

Lokasi Dukuh Pancuran berada di antara segitiga pasar tradisional yang ada di Salatiga, yaitu Pasar Raya 2 – Pasar Blauran – Pasar Loak Tamansari. Lebih tepatnya Pancuran berada di Kelurahan Kutowinangun Lor, Kecamatan Tingkir, yang berbatasan dengan
sebelah timur: Kampung Ngentak, sebelah selatan: Kampung Kalioso, sebelah barat: Kampung Pungkursari, dan sebelah utara: Kampung Kalitaman.

Pancuran dipimpin seorang Ketua RW yang membawahi 18 RT dengan masing-masing RT rata-rata ada sekitar 35 Kepala Keluarga dengan mata pencaharian beragam.

Pancuran sempat dikenal sebagai Kampung Karak, karena masyarakatnya banyak yang memproduksi krupuk karak. Akibat krisis moneter sekitar tahun 1997-1998, kini hanya tinggal beberapa warga yang masih memroduksi krupuk karak, kurang lebih sekitar 7 industri karak.

Ada juga sebagian masyarakat yang menjadi pengrajin mainan, salah satu contoh produksi replika sepeda motor yang sempat menjadi viral.

Drumblek, sebuah kesenian khas Salatiga, lahir pertama kali juga di Kampung Pancuran sekitar tahun 1986, yang digagas oleh salah seorang pemuda bernama Didik, atau biasa disapa Didik Omphong. Kini kesenian drumblek sudah menjamur di beberapa daerah, termasuk di luar Kota Salatiga.

Pelan tapi pasti, Kampung Pancuran yang dulu kumuh terus berbenah. Warganya punya komitmen tinggi untuk menjadikan kampung pedukuhannya sebagai kampung wisata. Tak lagi kumuh, tak lagi ada perkelahian antarwarga, dan tak punya kesan seram.

Berawal dari obrolan di media sosial (facebook), warga Pancuran bernama Setyasih dan Munadi dan disupport oleh teman-teman lainnya yang ada di facebook tentang kampung wisata di tengah Kota Salatiga, maka ide tersebut disampaikan ke Ketua RW 04.

Gayung bersambut, ide-ide tadi diterima oleh Ketua RW 04 Kampung Pancuran yang diteruskan ke pemerintahan setempat yang kebetulan juga sedang menggali potensi-potensi wisata yang ada di Salatiga.

Akhirnya apa yang menjadi keinginan warga Pancuran disambut baik oleh pemerintah dan didukung penuh untuk menjadikan Kampung Pancuran menjadi Kampung Wisata yang penuh harapan.

Hal itu ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Walikota Salatiga, Yulianto pad 2017 dengan pemugaran makam lelulur Kampung Pancuran, Makam Nyai Kopek sebagai tempat wisata religi sekaligus dimulainya proses “Kampung Wisata Pancuran”.

Kini Kampung Pancuran telah banyak berubah. Ada lukisan mural di mana-mana, sehingga disebut pula sebagai Kampung Mural. Bahkan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, menyempatkan diri meninjau kampung itu, Kamis (3/1).

Kampung Pancuran yang dulu hanya perkampungan kumuh kini bahkan dikenal di mana-mana sebagai Kampung Wisata atau Kampung Mural yang asri. Seakan mengisyaratkan sebuah optimisme besar ke masa depan. Meski untuk ke sana tak semudah membalikkan telapak tangan.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *