PT KAI Daop 4 Semarang Siap Siaga Daerah Rawan Bencana

SEMARANG (Asatu.id) – Seperti tahun-tahun sebelumnya PT KAI Daop 4 Semarang bersiap siaga untuk daerah-daerah rawan bencana alam dari aspek sarana dan prasarana.

Manager Humas PT KAI Daop 4 Semarang, Suprapto mengemukakan PT KAI Daop 4 Semarang mendeteksi sebanyak 6 titik yang menjadi kewaspadaan karena potensi rawan berupa banjir pada jalur rel di wilayahnya. Di mana wilayah jalur rel yang menjadi wilayah PT KAI Daop 4 Semarang sepanjang 656 km , yang terbentang dari Tegal – Cepu – Gundih.

“Enam titik yang menjadi kewaspadaan dan dijaga 24 jam tersebut di antaranya 1 titik antara Stasiun Plabuan – Stasiun Krengseng, 3 titik diantara Stasiun Plabuan – Stasiun Kuripan, 1 titik di antara Stasiun Kuripan – Ujung Negoro dan 1 titik antara Semarang Tawang – Alastua,” ungkapnya.

Untuk itu, lanjut dia, pihak PT KAI Daop 4 Semarang menyiapkan strategi manajemen resiko bernama “AMUS” (Alat Material Untuk Siaga). AMUS ini diantaranya berupa penyiapan alat pemelihara rel jenis MTT, batu balas, bantalan rel, pasir, karung, besi H Beam (untuk jembatan), alat penambat rel, dan para personil perawatan prasarana yang siap 24 jam di titik-titik yang telah ditentukan.

Suprapto menjelaskan PT KAI Daop 4 Semarang menyiagakan personel perawatan prasarana jalur rel berupa tenaga flying gank, Petugas Penilik Jalan (PPJ) Ekstra, Penjaga Jalan Lintas (PJL) Ekstra, dan petugas posko daerah rawan di sepanjang lintasan KA di wilayah Daop 4 Semarang untuk memantau apabila terjadi rintang jalan atau peristiwa luar biasa (PLH) yang bisa menghambat perjalanan KA.

“Total sebanyak 183 petugas disiagakan dengan rincian 85 personel PPJ Ekstra, 84 personel PJL Ekstra, dan 14 personel posko daerah rawan,” jelasnya.

Meskipun jumlah PJL ditingkatkan, lanjut dia, PT KAI Daop 4 semarang dengan tegas mengimbau kepada seluruh masyarakat pengguna jalan untuk tetap mematuhi rambu-rambu di pelintasan sebidang. UU No 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian dan UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) menyebutkan bahwa perjalanan KA mendapat prioritas di jalur yang bersinggungan dengan jalan raya.

“Palang pintu dan penjaga perlintasan hanyalah alat bantu keamanan semata. Tata cara melintas di perlintasan sebidang adalah dengan berhenti di rambu tanda “STOP”, tengok kiri – kanan, apabila Aman, bisa melintas (UU No:22 tahun 2009). Data menunjukkan, dari tahun ke tahun, terdapat tren kenaikan jumlah kecelakaan di pelintasan sebidang,” ungkapnya.

Data Kecelakaan lalu lintas di wilayah PT KAI Daop 4 Semarang tercatat sebagai berikut : pada tahun 2016 terjadi 17 kecelakaan, tahun 2017 tercatat 42 kecelakaan, dan per 30 November 2018 telah terjadi  27 kecelakaan.

“Untuk itu diperlukan kerja sama dengan seluruh pihak untuk mewujudkan keselamatan bersama,” tandasnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *