Menapak Jejak Perempuan Pejuang Keadilan di Lapas Bulu

SEMARANG (Asatu.id) – Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) Semarang menggelar sarasehan bertajuk “Menapak Jejak Perempuan Pejuang Keadilan” di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Semarang, Jalan Mgr Sugiyopranoto No 37, Bustalan, Semarang Selatan.

Kegiatan tersebut merupakan rangkaian acara kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yamg dihadiri beberapa pembicara, antara lain Dewi Candraningrum, seorang tokoh Feminis dan salah satu pendiri Forum Jejer Wadon, Dewi Rahmawati, pengelola Komunitas Perempuan Nelayan Puspita Bahari, dan Laeli Nurillahi dari Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Semarang.

Seorang tokoh Feminis dan salah satu pendiri Forum Jejer Wadon Dewi Candraningrum mengisahkan pengalamannya dalam memperjuangkan hak para ianfu atau budak seks masa penjajahan Jepang.

“Kita memang perlu menggali potensi. Untuk melawan kekerasan itu kita harus mengawali dengan rasa tidak membenci, kita harus bangkit tanpa rasa benci, sehingga kita bisa menikmati keindahan di hari berikutnya,” ceritanya.

Dewi bercerita tentang bagaimana ia mulai mendalami sebagai seorang pelukis hingga mampu melukis puluhan wajah ianfu dari berbagai daerah di Indonesia. Perempuan yang merupakan anggota Dewan Redaksi Jurnal Perempuan itu memulai menjadi seorang pelukis berawal dari anaknya yang bernama Ivan Ufuq Isfahan. Ivan merupakan anak penyandang intellectual disability yang dari kecil suka menggambar.

“Anak saya memang autis, kemudian itu yang membuat saya melukis karena saya tidak bisa mendendam anak saya autis. Susah juga kan saya mau curhat sama anak saya juga nggak bisa makanya saya melukis,” kisahnya.

Lukisan-lukisan Dewi Candraningrum syarat dengan pergerakan dan pemberdayaan perempuan. Lukisannya pun juga diaplikasikan ke media syal yang selalu ia pakai ke mana-mana. Syal bergambar lukisan wajah-wajah korban kekerasan seksual selalu melingkar di leher mengiringi setiap kegiatan yang melibatkan Dewi Candraningrum.

“Anda bisa melukis, bisa membuat puisi, kreativitas tidak ada tembok batasannya. Untuk disayangi, untuk terkenal, untuk mendapatkan uang itu hanya bonus. Mulai Sekarang muali dengarkan insting anda semua dan tentunya didasari dengan pengetahuan, perbanyak membaca,” kata Dewi Candraningrum di hadapan puluhan napi wanita. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *