Perangi Produk Berbahaya Perlu Sinergitas

SEMARANG (Asatu.id) – Saat ini ditengarai banyak beredar produk yang tidak aman. Terkait hal itu, produsen atau pelaku usaha, masyarakat, serta pemerintah harus bergerak dan bersinergi dalam melakukan pengawasan terhadap peredaran obat ilegal, kosmetik maupun makanan mengandung bahan kimia berbahaya.

Hal itu ditandaskan Sekretaris Daerah (Sekda) Jateng, Sri Puryono, saat lokakarya bertajuk “Efektivitas Pengawasan Obat dan Makanan melalui Sinergitas dengan Pelaku Usaha”, di PO Hotel Semarang, Selasa (6/11).

“Saat ini marak beredar obat palsu, kedaluwarsa, obat tradisional yang mengandung bahan kimia, maupun obat ilegal lainnya yang tidak menyembuhkan, tapi justru membahayakan bagi kesehatan,” kata Sri Puryono.

Lokakarya itu juga dihadiri Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI, Penny K Lukito, pengusaha obat dan jamu tradisional Irwan Hidayat dan puluhan pengusaha jamu dan obat di Jateng.

Menurut Sekda, selain obat ilegal, banyak kosmetik dan makanan mengandung bahan kimia berbahaya yang efeknya bisa mengganggu kesehatan. Bahkan, jika digunakan dalam jangka panjang akan mengakibatkan kematian.

Tidak kalah berbahayanya, saat ini marak beredar aneka produk makanan kecil yang mengancam kesehatan dan sengaja diedarkan untuk kalangan anak-anak. Dengan kemasan yang menarik dan tampilan warna disukai anak-anak, padahal bahan pewarna yang dpakai belum tentu sesuai standar.

“Terlebih saat ini, serbuan bermacam produk asing gencar masuk pasar dalam negeri. Termasuk produk-produk asing yang ora cetha atau tidak jelas kandungannya, tapi murah harganya. Sehingga menarik konsumen,” bebernya.

Sri Puryono menilai masyarakat tidak cermat sehingga kerap menganggap bahwa produk impor itu baik tanpa mengecek terlebih dahulu keamanan, manfaat, dan mutu produk.

Karenanya, dalam rangka melindungi masyarakat dari peredaran obat, kosmetik, dan makanan ilegal, mengandung bahan kimia berbahaya, serta berisiko terhadap kesehatan, semua pihak diharapkan bersinergi untuk melakukan antisipasi tindakan pencegahan. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *