Tanggapi Soal Ugal-Ugalan, Inilah Keluhan Sopir BRT

BRT Trans Semarang (Asatu.id/Doc)

SEMARANG (Asatu.id) – Keluhan dan saran terhadap pelayanan sopir BRT Trans Semarang menjadi jumlah terbanyak selama periode Januari hingga pertengahan Oktober 2018.

Berdasarkan 642 keluhan dan saran yang masuk baik melalui call center, Media Sosial, SMS, surat kabar dan sistem Lapor Hendi, ada 143 keluh dan saran yang salah satunya tentang sopir yang ugal-ugalan di jalan.

Menanggapi hal itu, salah satu sopir BRT Dewa (nama disamarkan) mengatakan, memang ada beberapa alasan sopir menambah kecepatan laju armada. Hal itu salah satunya tentang peraturan interval antar-BRT. Ia menjelaskan, antara BRT satu dengan yang lainnya tidak boleh saling mendahului sehingga jika ada kemacetan, BRT harus kembali mengatur jarak agar tidak beruntun.

Selain itu menurutnya, kondisi jalan turut mempengaruhi peningkatan kecepatan seperti ego para pengguna jalan yang enggan untuk mengalah. Hal itu terkadang membuat sopir merasa jengkel.

“Kami sebenarnya tidak ugal-ugalan karena jalan juga padat, ya mentok-mentoknya kecepatan 40 sampai 50. Sebenarnya yang membuat agak jengkel karena kadang-kadang kita mau menyalip di depan namun tidak diberi jalan,” terang dia.

Selain itu, tambah dia, ada beberapa masalah berkaitan dengan jalan yang dilalui BRT Trans Semarang yang salah satunya di koridor 6, yakni Unnes – Undip. Menurutnya, terdapat beberapa kendala berkait tentang jalan yang dilalui, sehingga menimbulkan keluhan penumpang selama perjalanan.

Kalau Unnes, terutama Trangkil itu kan ada tanjakan, jadi kecepatan kami tingkatkan,” ujarnya.

Salah satu sopir lain menambahkan, ada pula berkait dengan penumpang yang membuat sopir merasa serba salah mulai dari banyaknya penumpang yang sibuk bermain HP ketika akan naik BRT hingga penumpang yang meminta berhenti mendadak.

“Memang penumpang itu adalah raja. Tapi kita seharusnya juga saling menghargai karena selama ini ujung-ujungnya kami yang kena. Ini yang membuat kami jadi serba salah,” keluh dia.

Namun demikian, ia mengaku pihak sopir tetap semaksimal mungkin memberikan kenyamanan kepada penumpang mengingat kesadaran bahwa BRT adalah untuk memberikan fasilitas kepada masyarakat. Tetapi ia juga meminta kepada penumpang untuk tetap saling menghargai antar penumpang dan sopir.

“Kami semaksimal mungkin memberikan pelayanan kepada penumpang, kami sudah berusaha. Untuk penumpang kalau naik juga harus konsentrasi, jangan mainan HP. Sudah di halte masih mainan hp tapi sambil naik, itu kan juga membahayakan. Kasihan supirnya, yang kena kan nanti juga sopirnya,” sarannya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *